Rabu, 30 Januari 2013

Nabi Nuh as dan Petaka Air Hujan di Jakarta



Menyimak kisah sejarah perjalanan Nabi Nuh as membuat hati dan pikiran, bertambah semakin iman di sanubari yang paling dalam, apalagi hubungan kisah sejarah Nabi Nuh as melekat bersama bahteranya yang begitu menakjubkan, dan pada akhirnya dapat menyelamatkan para penganutnya yang taat, tetapi bagi para pelaku yang zalim, Allah SWT menghukumnya, hingga binasa bersama tenggelamnya bumi pada peristiwa banjir tersebut.

Sedangkan keberadaan Jakarta dan sekitarnya juga mengalami banjir yang mengerikan, apabila tidak dapat ditangani secara baik dalam hari berikutnya, bulan berikutnya, tahun berikutnya, kemungkinan besar Jakarta juga dapat tenggelam, seperti kisah perjalanan Nabi Nuh as saat menghadapi para kaum yang zalim.

Sebenarnya, air hujan adalah berkah dari Ilahi, tetapi di Jakarta dan daerah sekitarnya, malah tenggelam gara-gara air hujan yang di anggap berlebihan intensitas airnya, padahal kalau air hujan dapat dikelola dengan baik, tentunya akan membawa sebuah berkah yang dapat bermanfaat bagi umat manusia, tetapi kalau air hujan tak dapat dikelola dengan benar. Maka air hujan akan menjadi banjir dan menyebabkan bencana yang sangat mengerikan bagi kelangsungan umat manusia selanjutnya.

Keberadaan air hujan, apabila dibiarkan tanpa ditata secara baik, tentunya akan mengakibatkan sebuah petaka yang dapat merenggut harta maupun nyawa, tetapi kalau air hujan dapat ditata dengan benar. Insya Allah, air hujan akan menjadi berkah yang penuh kemaslahatan bagi umat manusia. Maka sudah selayaknya umat manusia yang hidup di muka bumi, untuk berbuat baik kepada alam, supaya alam juga berbuat baik kepada umat manusia secara keseluruhan.

Umat manusia tak lepas dari istilah: khalifah di muka bumi. Maka sudah sepatutnya umat manusia dapat mengatur berbagai ruang kondisi alam dengan baik dan benar, supaya air hujan dapat dimanfaatkan bagi kelangsungan umat manusia di dalam meraih kehidupan yang lebih baik lagi.

Ketika alam sudah tidak semestinya diperlakukan secara baik, tentunya alam juga akan mengalami ketidak-seimbangan bagi realita kehidupan alam semesta. Maka sudah selayaknya umat manusia, untuk selalu berbuat baik terhadap alam, supaya alam dapat berbuat baik pula terhadap umat manusia. Sehingga umat manusia dengan kehadiran air hujan, bukan malah menjadi petaka yang mengerikan, tetapi dengan kedatangan air hujan, tentunya diharapkan dapat membawa sebuah kesuburan alam dengan dipenuhi berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang bermanfaat bagi realita kehidupan umat manusia seutuhnya.

Kedatangan air hujan dari langit merupakan sebuah berkah dengan membawa berbagai manfaat yang sungguh luar biasa, tetapi air hujan kenapa membawa petaka bagi Jakarta dan sekitarnya? Kalau melihat dari sejarah air hujan memang tak selamanya membawa berkah, tentu tak lepas disebabkan air hujan tidak mampu diserap dengan baik oleh tanah. Karena tumbuh-tumbuhan dan juga pepohonan sudah semakin hilang habitatnya. Sehingga ekosistem alam mengalami kerusakan yang sangat mengerikan, Maka kalau peristiwa kerusakan alam sudah terjadi di berbagai tempat, berarti air hujan yang turun akan mengakibatkan banjir yang dapat menenggelamkan suatu daerah atau suatu daratan.

Sejarah juga pernah mencatat tentang kisah perjalanan Nabi Nuh as. Bahkan didalam ayat suci Al-Qur'an Allah berfirman: "Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan." (QS. Huud [11]: 37).

Dari kisah sejarah perjalanan Nabi Nuh as, Allah SWT tidak menghancurkan segala-galanya. Namun Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh as, untuk membangun sebuah bahtera besar supaya dapat menyelamatkan sebagian makhluk ciptaan-Nya, dan pada akhirnya Nabi Nuh as bersama para pengikutnya yang taat, selamat dari petaka banjir yang maha dahsyat, sedangkan bagi yang zalim tenggelam bersama banjir bah lautan.

Berangkat dari kisah sejarah perjalanan Nabi Nuh as, bahwa sebuah petaka adalah bagian dari peringatan Allah SWT bagi umat manusia yang dapat berpikir, untuk selalu memperlakukan alam dengan baik, supaya alam juga memperlakukan umat manusia dengan baik juga.

Kalau air hujan adalah: berkah, tetapi kenyataannya menjadi sebuah bencana yang maha dahsyat, berarti sama dengan ada kesalahan dalam penataan lingkungan yang ada di suatu wilayah, baik di Jakarta dan sekitarnya. Maka sudah saatnya di Jakarta dan sekitarnya membangun waduk raksasa atau dengan gerakan penghijauan yang dapat menampung air hujan, supaya air hujan dapat menjadi berkah, bukan malah menjadi petaka bagi umat manusia.

Ingatlah!, wahai umat manusia diseluruh alam semesta, bahwa air hujan adalah berkah besar bagi seluruh umat manusia, apabila umat manusia dapat memperlakukan alam dengan dengan baik dan benar, untuk itulah seluruh umat manusia berbuatlah kebajikan kepada alam, supaya alam juga baik terhadap umat manusia di alam semesta.

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qaaf [50] : 9-11).

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)........

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar