Selasa, 31 Maret 2015

Fenomena Menghujat Islam


by: Khoirul Taqwim

Sebelum membaca tulisan ini penulis mengajak kepada sahabat-sahabat dan para pembaca untuk melonggarkan pikiran maupun jiwa terlebih dahulu, agar dalam memahami berita ghaib ini kita dapat lebih nyaman tidak terlalu tegang dan merasa di sudutkan, tetapi kita dapat berjalan bersama dalam satu proses berusaha membangun jiwa dan pikiran kita sebisa mungkin tanpa embel-embel kepentingan terselubung.

Melihat dari perjalanan sejarah Islam permasalahan penghujatan sejak dahulu sudah ada, untuk itu jangan kaget bagi umat Islam kalau ada sebagian pikiran manusia yang punya pandangan ekstrim tentang Islam, bahkan penulis mengakui sejak awal mula nabi Muhammad menyebarkan ajaran Islam itu sudah terjadi penghujatan yang begitu dahsyat, kalau di lihat konteks sejarah ternyata penghujatan Islam itu lebih parah di zaman dahulu kala pada waktu nabi turun. Lalu yang menjadi pertanyaan besar apakah menghujat Islam itu salah atau benar?……….Dari pertanyaan itu diperlukan pemahaman tentang hak individu dan hak sosial, agar seimbang dalam menafsirkan suatu permasalahan, karena bagaimanapun juga hakikat manusia itu sebagai makhluk individu dan ternyata juga sebagai makhluk sosial.

Beberapa hari ini kita sering mendengarkan lewat diskusi maupun lewat dunia tulis menulis tentang penghujatan Islam, sebenarnya ada apa dengan fenomena ini?….pertanyaan ini muncul dalam benak penulis, sehingga menimbulkan pertayaan-pertanyaan dan juga berbagai jawaban, apa memang sudah sedemikian parahnya Islam sehingga mereka melakukan penghujatan habis-habisan, bahkan sang penghujat Islam seolah-olah apa yang di lontarkan itu adalah sebuah kebenaran, walau hanya tahu dari ajaran Islam secara sepotong-sepotong tidak komprehensif, tetapi mereka sudah berani menyimpulkan tentang Islam dengan berbagai wajah yang menghujat. Inilah fenomena yang sangat ironis dan menghasilkan sebuah kritik destruktif.

Di era kebebasan berpendapat ini seorang sebebas-bebasnnya mengkritik maupun menghujat apa benar seperti itu?….tetapi kalau penulis mengamati sebaiknya ada namanya kebebasan yang di warnai semangat tanggung jawab penuh dalam melakukan penafsiran dan pemahaman, baik masalah sosial, budaya maupun agama dengan mengangkat tepa selira (tenggang rasa) sebagai warna memahami persoalan yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Menghujat Islam mulai dari perkataan Islam adalah teroris, Islam adalah umat yang gampang marah, Islam adalah tolol atau bentuk-bentuk gambaran lainnya. Berangkat dari situ ada pertanyaan salahkah mereka dengan pemikiran seperti itu?…kalau hemat penulis seharusnya kita sebagai manusia mengedepankan hak sosial tanpa mengingkari hak Individu dalam mengamati suatu permasalahan, bahkan hak sosial seharusnya di tempatkan terlebih dahulu dengan mengangkat nilai tepa selira sebagai bentuk pemahaman dan penafsiran.

Dengan adanya hak sosial merupakan jalan kewajiban sebagai manusia dalam menjalankan keberagaman kehidupan masyarakat, tetapi kalau hak sosial di langgar sudah dapat di pastikan yang ada akan Muncul gesekan, bahkan tidak dapat terhindarkan perang sebagai bentuk jawaban atas pelanggaran sosial.

Pelanggaran hak sosial akan menjadi pemicu konflik baik di wilayah teoritis, bahkan yang lebih berbahaya konflik di wilayah praktis dan tidak dapat di redam kalau tingkat arus bawah sudah tidak terkendalikan dengan adanya penghujatan yang melanggar hak sosial, maka perang atas nama Islam atau atas nama kepercayaan selain Islam akan bergejolak dan membawa perang keyakinan.

Pelanggaran hak sosial sangat berbahaya di banding pelanggaran individu, karena kalau sudah mencakup penghujatan Islam berarti ada pelanggaran sosial dari situ nanti akan ada benih kebencian satu sama lain, sehingga benturan keyakinan akan membawa pecahnya perang yang tidak hanya bersifat individu, namun akan terjadi di wilayah sosial yang tentunya sangat membahayakan kerukunan umat manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar