Monday, 25 January 2010

AKU DAN KAMPUNGKU


Oleh: Khoirul Taqwim


Malam pukul sembilan tepat
Bulan tak datang jua hari
Bintang sesekali tengok bumi yang lagi merindu
Dingin rasa menggigil
Tak lari semut menggelitik badan
Ganggu buta benar semut dalam diri
Kamar kecil segi empat kotak kecil mungil
Buku luak tak tertata disamping bayangku
Berdiri sahabat jokor yang lagi minum kopi hangat
Kepala geleng-geleng sakeng enaknya 
Bikin dia lupa bahwa hari ini dia berduka lara
Ya!....yu sriah pacar jokor kemarin lusa nikah
Kopi benar bikin lupa sejenak masalah
Soal kesehatan
Ah……..itu urusan Tuhan
Teringat kyai musholla khutbah waktu jum’at kemarin
Kata dokter hando laen
Kopi bikin orang sakit
Bikin penyakit
Bikin stress
Ah terserah mana yang benar
Nilai sendiri dalam diri
Yang penting hari aku lagi merindu si dia
Jangan salah sangka merindu si dia apa??..
Maksudku dalam hati merindu
Merindu kambingku besok yang harus dikasih makan
Saat terbit mentari diujung timur
Merindu ayamku yang sakit gara-gara kedinginan
Kuharus cari obat 
Walau lari diujung kulon
Tapi aku tak mau lari diujung selatan
Rasa takutku kalahkan mauku
Aku masih punya hutang pok Rah diujung selatan
Takut mata jelalatan pok Rah
Ringan mulut pok Rah
Walau kadang hati besar kan datang
Saat pok Rah ada mau dalam rasa
Nitip salam pak Raden kepala desa
Kebetulan pak Raden lagi duda
Kebetulan pula pok Rah lagi janda
Kebetulan suka dalam sama
Moga saja tak seperti matahari dan bulan yang tak pernah ketemu dalam ujung
Teringat kata parmen seminggu kemarin
Kata parmen pok Rah janda kembang nomer wahid didesaku
Umur baru tiga puluh Satu tahun
Anak baru Satu
Umur dua tahun
Anak wanitanya kecil seputih ibunya
Kasihan umur sekecil itu harus jadi yatim
Kasihan umur sekecil itu harus menantang zaman
Dalam hati kecilku terketuk rasa kasihan
Teringat juga waktu parmen bilang sama jokor
Mau Kor kamu nikah sama pok Rah
Ngawor kamu Men
Teriak Jokor sambil tertawa
Langsung parmen jawab dengan lembut
Canda dalam tawa Kor jangan diambil hati
Hahaha…..tawa kami bertiga jadi satu nada melodi
Bukan masalah mau apa tidak
Kata Jokor sambil kakinya diangkat kekiri
Tetapi dia sudah ada dalam hati rasa
Mau kemana jika hati sudah tak lari
Pok Rah kan tau sendiri lagi demen ama pak lurah
Duda ketemu janda jadi satu dalam hati
Aduhai rasa puber jilid dua telah tiba
Mau kemana rasa
Mau kemana jiwa
Tunggu apa dalam dada
Kawin saja enaknya
Hahaaaa….senyum kulum kami bertiga
Tinggal sembelih ayam
Sembelih kambing
Sembelih sapi kalau tak sayang kantong
Jangan lupaundamg seluruh kampung
Cit cuuuuuuiiiiit!!...............
Teriakku dalam hati
Tak terasa aku mulai merindu kembali segudang memory
Paling merindu dalam daku
Merindu kerbauku yang lagi masuk angin
Gara-gara ambruk kandang waktu hujan datang
Merindu, merindu dan merindu benar malam ini

Di sudut kamar
Kutengok dalam curiga rasa
Ada apa dengan jokor
Tanya dalam hati kecilku
Eeeeeeeeeh!!.. aku terperanjat
Rasa heran tersimpan dibalik jeruji rasa ingin tauku
Terlihat jelas dikelopak mataku
Jokor geleng kepala lagi saat sedu kopi dengan lahap
Kulihat dengan lirikan sejenak
Ternyata lagi-lagi aku terbawa gelengan kepala jokor
Gerak kepala jokor membuka memory seminggu silam
Ingatkan aku waktu baca do’a tetangga yang meningal tepat tujuh harinya
Masyarakat bilang tahlil namanya
Orang bilang itu budaya NU
Ada yang bilang lagi itu syari’at NU
Bilang, bilang dan bilang tentang tahlil
Itu tak ada di agama 
Itu melanggar agama 
Itu tak ada di Al-qur’an
Bahkan haditspun tak ada yang menyebutkan tahlil
Kata sahabatku Fanny yang kemarin baru pulang dari Universitas mesir Al-Azhar
Maklum dia lupa desa yang melahirkan 
Lupa pematang sawah
Lupa layang-layang yang terbang saat panen padi tiba
Lupa adu jangkrik
Lupa adu jago
Dan dia lupa adu merpati
Saat sore kan tiba
Pola pikir semua dikaitkan dengan study waktu di Mesir
Tangan digerakkan saat bicara
Mata melirik saat ngomong ada dalam otaknya
Teks kebenaran mutlak
Kata Fany si badan kurus
Dia lupa ada konteks dalam hidup
Campus Al-Azhar mesir jadi hidupnya
Jadi tumpuan ilmunya
Jadi kebenarannya
Jadi kemutlakan
Jadi, jadi dan jadi bagian dari hidupnya
Dia lupa ada campus kehidupan desa yang masih dalam fitrahnya
Dia lupa kakek nenek yang butuh do’a-do’a
Dia lupa tuhan berkehendak apapun bisa
Dia lupa, dia lupa dan dia lupa si Fany badan kurus

Teringat dalam sepi
Sendu gemulai selimuti hati rasa
Pikiran melayang sejenak
Otak dibuat rasa dalam sedu
Hati gelisah saat ingat si Fany sahabat kecilku
Tentang Fany memory terbawa malam
Fany sahabatku yang cerdas masalah Teks
Hafal banyak hadits selebar jagat
Bahkan hafal Al-Qur’an setebal bis mini
Tapi sayang pikirku
Pikirku dia lupa budaya asli
Pikirku dia lupa kampung 
Pikirku dia lupa tepo seliro yang diajarkan neneknya
Pikirku dia lupa kambing yang lagi makan rumput hijau
Pikirku dia kebanyakan makan roti lupa jagung bakar
Pikirku, pikirku dan pikirku tentang Fany………
Tak kuteruskan bahasa pikirku
Terserah otak mau ngomong apa
Tentang aku, tentang dia dan tentang semua
Dia punya hak dalam naluri
Dia punya pendapat dalam otak
Apalagi sekelas tamatan Al-Azhar mesir di Afrika utara
Dia yang patut ngomong agama
Tapi dia tak berhak menghakimi penduduk kampung nan lugu dalam tindak-tanduk
Pikirku tentang pendapat Fany si badan kurus
Apalagi jadikan penduduk kampungku jadi tersangka agama
Lagi-lagi pikirku dalam hati
Si Fany badan kurus punya hak lebih
Gelar mister dipundaknya
Maaf Fany bukan aku menolak
Tapi Cuma tak sependapat
Teriakku dalam jiwa yang keruh
Tapi Fany kamu punya hak berekspresi
Berkarya dalam tulis
Bahkan dalam aksi
Bukan aku yang punya hak, bukan aku yang punya hak dan bukan aku yang punya hak………….. 
Terulang bahasa kegelisahan
Ma’af Fany lagi-lagi cerewet dalam jiwaku kambuh
Bicara lirik-lirikku mulai lagi
Aku sebatas hafal minum kopi
Bukan hafal hadits seluas jagat
Apalagi Al-Qur’an setebal bis mini
Tapi aku hanya ingat apa yang diajarkan kampungku
Bukan digedung kampus UIN Yogyakarta
Bukan dicampus UGM terkemuka
Bukan di UI depok dekat BSI
Apalagi universitas sekelas Al-Azhar mesir
Soal agama aku tidak sepintar Fany
Nilaiku jeblok semua
Tak ada yang harus dibanggakan
Apalagi tindakanku jauh dari moril agama
Tidak kayah Fany hidup selalu dimasjid 
Selalu Qur’an ditangannya
Walau sesekali aku melihat Fany lagi deketi cewek berkerudung putih
Maklum dia ayu rupawan
Anak pak haji Roib
Orang terkaya dikampungku
Orang bilang Azizah namanya
Walau hati tergoda sesaat
Ah aku ini siapa??...
Tanyaku dalam diri
Tak pantas diri mimpi tentangnya
Apalagi berharap
Tentu Fany akan berkata haram hukumnya
Sebelum terhukum diri
Bahasa menjauh itu lebih nyaman dibanding aku mendekat
Ah!..soal Azizah itu urusan Fany
Nanti dikira kalau bilang soal ini
Orang nyangka aku iri hati
Sory bos aku masih punya nurani
Pikirku kecut tentang Azizah
Hahahaa……….tertawa dalam hati diri

Malam semakin jemput pagi
Mentari masih malu tersenyum
Adzan shubuh tak tiba datang
Pikirku lagi-lagi soal Fany si badan kurus
Soal agama Tanya Fany
Dia dari mesir 
Tafsir Hadits dia hafal selangit
Jangan Tanya soal tafsir sama aku
Tajwid saja aku tak pecus
Lagi lagi sahabatku Fanny yang kemarin baru lulus dari Al-Azhar teringat dalam bahasa
Ayo kita luruskan masyarakat kampung
Kita gerakkan dia sesuai dengan teks agama
Ajaknya padaku
Pikirku dia lupa ada konteks dalam hidup
Lagi-lagi yang ada di otakku
Apalagi dikampungku yang telah lama dibangun fondasi kehidupan
Tapi itu hanya dalam hatiku yang lagi terkunci bisu
Aku tak berani jawab
Bukan karena takut
Tapi yang benar aku pengecut kata kyai kampungku

Mentari mulai tak malu putri
Sambut hangat jagat raya
Sinarkan terang dalam pagi buta
Sesekali menyengat kulit yang lagi lara
Pagi buta tak nyana tak kira
Aku ketemu kyai mushola dikampung 
Kyai lagi duduk diteras rumah
Kuhampiri sejenak dalam langkah
Kucium tangannya
Apa tau disitu letak berkah
Kata si Naksir yang kemarin pulang dari mondok
Kududuk dekat pak yai
Merekat, mendekat dan menatap
Tapi tak mendekap
Aku cerita si Fany yang baru lulus dari mesir kemarin
Pak yai dengar ceritaku tanpa kata
Dia simak dengan mata setajam seekor burung hantu
Siap memangsa saat lapar kan tiba
Jiwaku berdenyut keras
Takut kepalang pintu hatiku 
Lihat tingkah mata pak yai mushola
Ganti alih bahasa dia dengan tangan menggenggam 
Seketika aku di bawa imagi tikus ketemu kucing
Gemetar dada ini
Hati ini mau copot terasa
Kulihat dari mata kecilku
Seketika wajah pak yai memerah
Pak yai berdiri sejenak ambil susu hangat
Kiraku kayah gitu
Pikirku seperti itu
Soalnya hari kemarin pak yai ngasih susu sapi sama aku
Tapi persepsi yang kubangun salah
Ternyata pak kyai lagi bawa kitab kuning 
Apa mau khutbah pak yai??..
Tanya dalam hati dunguku
Ini bukan hari jum’at
Jawab otakku
Ini hari minggu pagi
Lihat kalenderku
Jawab memory yang terpajang didinding otak
Pak yai tanpa basa-basi sejenak menghela nafas
Dia langsung bicara lantang suara
Ingatkan aku waktu dikodam brawijaya kemarin siang
Tegas lugas komandan siapkan barisan
Untung saja pak yai tak bawa senapan cuma bawa kitab kuning
Dia baca bahwa mendo’akan orang meninggal itu dianjurkan 
Bahkan wajib sesama muslim mendo’akan
Panjang lebar yai khutbah pagi khusus tuk aku
Lagi-lagi aku tak paham apa yang dikata kyai mushola
Tau sendiri aku tak pernah makan bangku sekolah 
Jangankan jadi mahasiswa kayah si desi yang cantik permai
Bangku SD kelas 1 aku sudah di DO
Bukan karena aku tak semangat
Tapi cuma aku anak buruh petani kecil
Makan saja susah kepalang
Apalagi mikir makan bangku sekolah

Hari semakin panas
Sesekali terlihat burung camar lagi bernyanyi di TV
Kusedu sedan dalam tawa
Resah gelisah jadi satu
Ma’af pak yai saya mau ngasih kabar tentang aku
Pak yai aku hanya tau kambing selagi makan rumput
Tentang ayam lagi berebut makan
Kerbau yang lagi mandi disungai keruh
Sapi yang lagi bantu pak tani disawah
Kucing yang lagi bunting
Jadi jangan khutbah pagi buta padaku
Percuma pak yai
Bahasa terkunci dalam bibirku
Apalagi kamu tanya’ tentang agama
Jadi jangan kamu tanya’ diluar nalarku
Cukup kamu Tanya kabar Ratih
Kabar Clurut
Kabar Cikrak
Kabar si anu si itu
Mungkin aku bisa jawab
Walau belum terpuaskan
Soalnya aku bukan alat pemuas
Usulku pak yai, usulku pak yai dan usulku pak yai dalam hati keruh
jangan kamu gurui aku
Percuma kyai!...
Aku tak paham apa yang kau kata
Kalau pengen ngomong agama 
Pak yai ngomong sama si Fany yang baru lulus Al-Azhar mesir
Sama Rano yang baru tamat UIN Yogya fakultas dakwah kemarin
Eeeeeeeeeeeh!....ternyata
Bahasaku tadi
Hanya hati kecilku bicara
Bukan nyata
Tapi mulutku tetap terkunci rapat tepat pada tempat
Lagi-lagi aku bisu membuta
Kayah kambingku
Kerbauku
Ayamku
Tapi jangan bilang kayah bebek
Bukan aku tak mau disebut itu
Cuma aku tak punya bebek hari ini
Sebulan kemarin sudah terjual
Soalnya sandal jepitku lagi putus
Jadi aku butuh sandal jepit baru

Terik matahari mulai meninggi
Cahaya sinar menyentuh kulit hitam tipis
Kambing mulai berteduh disudut-sudut pohon
Tampak dari jauh pak tani mulai lepas lelah
Aku berjalan disetapak jalan
Nan riang 
Nan damai dalam jiwa
Lihat sawah hijau nan indah rupawan alam
Tak sengaja aku ketemu kancil diwarung kopi kecil mungil
Ukuran kurang lebih empat kali empat meter
Kancil sapa aku penuh sahabat
Dia kata padaku
Mau apa dan ada apa??.
Tanya padaku
Kubilang aku lagi pengen rokok Surya
Gampang soal rokok 
Kata kancil menggigil
Tapi ada syarat
Berkata lagi kancil sambil menjilat
Tolong aku dibantu
Gaet anak pak budi
Sudah tak usah dipikir panjang cil 100 persen kamu ditolak
Jawabku sedehana
Tau sendiri pak budi itu siapa
Dia wakil bupati
Apa mungkin anaknya dikasih kamu saat kau lamar
Tapi aku tetap dibelakangmu
Asal ada rokok surya
Hahaha….senyum candaku
Kan dukung selalu jika kamu ingin jadi mantu pak budi
Tapi tolong kambingmu itu diganti mobil BMW
Jika ingin punya mertua wakil bupati
Baju lusuhmu itu diganti merk dari Australia
Bila ingin pak budi senang
Tau sendiri pak budi suka merk luar negeri
Kulihat kayah gitu cil
Kataku sama kancil julukan dari bowo
Memang cil kadang pak budi saat dipetani dia orasi sekencang mabuk angin darat
Bikin maju produk desa 
Jangan lupa pakai produk desa
Itu kampanye pak budi kemarin
Waktu jadi kandidat calon wakil bupati
Cari massa itu bagian politik
Waah aku terlalu jauh ngomong politik 
Tak pantas SD tak tamat ngomong politik praktis
Aku cukup ngomong kambingku saja cil
Pikirku dalam hati
Lagi-lagi hatiku yang komat-kamit
Bukan mulutku yang terucap
Lima belas menit tak terasa
Ngobrol tentang si Budi wakil bupati
Untung obrolanku belum sampai kecady
Nanti ujung-ujungnya pejabat negeri
Jadi obrolan panas terik mentari
Kaget hati ketiban suara
Kancil teriak!..teriak!..secepat kereta 
Boh nah penjual warung
Seketika Hati boh nah terasa copot kayah ban waktu lepas dari sepeda ontel
Tolong boh nah apa mau sahabat saya
Jerit kancil dengan seru gurau
Kasih jangan pake’ acara lama
Waah bahasanya kayah anak baru gede
Apalagi acara tidur kayah disenayan
Waah!..kritik lagi keluar
Langsung tanpa curiga
Mulutku komat-kamit menghitung apa yang kumau
Diwarung kecil sederhana aku kayah Raja
Tolong boh nah aku butuh kopi hangat
Sebutku sama boh nah
Ambilkan juga korek buat nyalakan rokok suryaku
Siang ini sejenak aku punya pelayan
Sombongku kambuh lagi
Walau uang kantong tak ada
Paling tidak nikmati hidup jadi raja
Hayalku dalam mimpi waktu tidur sambil ngiler

Mendung terang semakin minyingsing 
Gelap mulai mendekat dihari
Angin sawah tak henti menari
Padi hijau sambut sore kan tiba
Kodok-kodok pematang sawah mulai gerak
Siapkan pentas semalam suntub ditepi sungai
Dicelah hatiku yang penuh rasa ingin tahu
Lagi-lagi hati terusik memory
Rasa yang tak penah hilang dalam pikir
Kambuh terjadi dalam otak
Penyakit ingat jadi lagi
Kopi kusedu
Rokok dimulut
Terasa surga diwarung boh nah
Ini yang kucari rasa dalam pikir
Disudut mata rancuku
Memory terbuka lebar 
Selebar daun kelor pagi berembun
Teringat Fany 
Teringat pak yai mushola
Bukan diskusi-diskusi yang kucari
Bukan teks yang kumakan
Bukan marah-marah pak yai tiap aku cerita Fany
Emang kancil ngerti mauku
Pikirku sejenak lepas lelah
Kancil memang paham apa yang ada dalam otakku
Kayah kambing, kerbau dia tau apa kusuka
Sori cil bukan aku menyamakan kamu dengan binatang
Tapi aku coba bicara dikit bahasa idiom
Walah!..kayah anak kuliah omongku
Seketika aku sadar
SD aku droop out
Mau ngomong yang tidak-tidak
Kalau denger sifanny mau ditaruh mana mukaku

Matahari mulai terbenam
Tak henti air mengalir disungai bengawan
Pohon-pohon nan rindang berkicau lewat angin udara
Burung-burung sejenak lepas lelah
Udara semakin hilang panas
Cahaya mulai menipis
Sore datang jemput gelapnya malam
Hari tak terasa sudah tiga jam diwarung boh nah
Ngomong ngalor ngidul sesekali ngomong selatan 
Terasa waktu sependek centi dalam biji
Aku teringat kembali kata kakekku yang suka naik kerbau
Dia bilang dalam mimpiku
Orang pandai tak hanya dibangku kuliah
Di mushola-mushola agama
Ternyata ada diwarung kecil milik boh nah
Kesimpulanku sementara
Jadi jangan kamu bilang ngawor dulu
Sory pak yai si fany bukan aku ngeyel
Ini Cuma bahasa hati bukan mulutku yang bicara
Terucap dalam bibir kecutku
Hati terasa berbunga laut
Bengawan indah dalam cerita
Menakutkan saat banjir kan datang
Terima kasih boh nah 
Terucap dari mulut kecilku
Tak sadar aku bicara diwarung kecil mungil milik boh nah
Kenapa mulutku tak terkunci diwarung boh nah
Kenapa bibirku bicara saat minum wedang boh nah
Apa diwarung boh nah ada demokrasi
Apa disini ruang demokrasi??..
Tanya dalam jiwaku
Apa tak milik senayan ruang demokrasi??..
Pikirku sejenak dalam hati
Apa mungkin pikirku terlalu jenius??..
Hingga berpikir dari warung boh nah hingga senayan
Atau pikirku goblok??..
Menghubungkan senayan dengan warung boh nah
Kegelisahan mulai muncul 
Mirip munculnya matahari saat terbit
Ternyata pertanyaan tadi salah sumua
Tak ada hubungan senayan sama warung boh nah
Pendapatku muncul lagi
Walau masih 50 prosen
Yang 50 prosen aku berpikir
Bahwa rakyat dan DPR ada hubungan 
Kata undang-undang yang kudengar
Gedung tinggi senayan itu uang pajak rakyat
Mobil mewah senayan itu milik rakyat pikirku yang lagi lupa darat
Maklum aku terena kandungan kopi boh nah
Sampai lupa kalau SD aku tak tamat
Jadi sori sekali lagi
Pak menteri
Pak DPR
Bila pikirku salah ngomong
Bila tulisku salah tulis
Harap dimaklumi SD tak tamat
Hahaha……tawaku tak ada yang dengar
Kecuali kambingku yang dengar
Dia sahabat sekaligus tumpuan nyawa saat perut keroncong
Bukan dimakan dalam perut
Tapi dijual tuk kebutuhan esok lusa

Menghujam peluru pikiran
Tersadar kopi buat semua
Cafein bikin hati melayang
Semoga saja nyawa tak ikut melayang
Pikirku tentang kopi boh nah
Ternyata sederhana pikirku warung boh nah memang pool enaknya
Buat diskusi sama kancil
Sama pakde kar
Dan tak ketinggalan selalu aktif lek parko 
Yang selalu diskusi tentang kerbaunya
Susah dimandiin waktu sore kan tiba
Aku tanya hati diri tentang efek kopi boh nah
Apa mungkin gara-gara kopi ada cafein
bikin aku terbang melayang
bikin aku lepas kunci-kunci mulutku
Wedang hangatmu bikin aku jadi apa aja yang kuingin
Tapi satu boh nah yang belum bikin aku jadi apa??..
Aku berpikir sejenak
Terlintas siti nurbaya dikelopak mataku
Oh! Ya aku teriak kopimu belum bisa bikin aku punya bini boh nah
Wakakakaaaaaaaaaaaak……….tertawa semua diwarung kopi milik boh nah
Hari mulai gelap
Kilat mulai sambut sore ini
Bentangan sawah disekeliling warung boh nah mulai hilang terang
Kuharus angkat kaki
Cil tolong bayari dulu
Kataku sama kancil
Kancil kaget seketika disamabar gledek
Wajah kancil gelap seketika 
Padahal matahari belum hilang diufuk barat
Aku lagi krisis global
Jawab sederhana kancil
Wah-wah kayak Negara amerika saja cil kamu itu
Bahasa kamu pakek krisis segala cil
Kayah bahasa rano yang kemarin baru lulus dari UIN yogya
Sori cil bukan hina
Tapi hati lagi munek
Untung saja hatiku tak mencret
Eh! Sory salah bahasa 
Namanya mencretkan bukan hati 
Tapi pantat teriak ratih yang lagi jalan bawa jagung goreng
Ikut-ikutan saja ratih yang baru umur 7 tahun
Hatiku menimpali bahasa ratih
Kuharus ngomong apa sama boh nah hari ini
Padahal seminggu kemarin hutangku belum kubayar sama boh nah
Kuambil ekspresi diluar pentas sandiwara
Berdiri sambil geleng kepala
Kubilang boh nah
Hitung berapa hutangku semua 
Total ada tiga puluh ribu sama yang dulu belum kamu bayar
Boh nah dengan muka kecut memandangku
Kubilang jangan khawatir boh nah nanti tak bayar semua hutang-hutangku
Asal boh nah do’akan aku jadi bintang film
Huahahaa….tawa boh nah rubah wajah kecut
Bahasaku pecahkan suasana suntub semua yang ada diwarung
Kamu cocok jadi ipin upin
Boh nah menyeringaiku
Kuangkat kakiku terasa berat tinggalkan warung boh nah sore ini
Seminggu sudah aku tak bayar warung boh nah
Gumam hatiku menggerutu
Kulangkahkan kakiku tinggalkan cerita hutangku
Biar tuhan yang ngatur 
Bisikku dalam jiwa
Seketika ingat tuhan aku ingat bahasa kyai Musholla
Sehari-hari rutinitas ngomong tuhan
Teringat ucap Fany
Mana mungkin tuhan kan rubah nasib suatu kaum 
Jika kaumnya tak berusaha merubah
Teringat Fany lagi saat ngobral bahasa waktu ketemu di dekat pohan pisang
Teringat, teringat dan teringat dalam memoryku
Semua serba teringat
Mungkin aku sudah ditakdir jadi taklid buta
Bukan sekelas creator
Mungkin aku dicipta sebagai pengingat memory
Bukan pencipta dalam dongeng
Tapi semua kusyukuri
Walau kadang hatiku menggerutu
Dimana letak keadilan
Damana letak kebenaran tekstual
Dimana letak kebenaran konstektual
Dimana, dimana dan dimana 
Tanya hati kecilku
Tanya hati yang beku 
Tanya hati yang terkunci
Tanya hati yang hati-hati dalam mengambil sikap tentang kampungku
Tentang binatang ternakku
Tentang semua yang kudengar
Tentang semua yang kulihat
Cukup dikampung aku belajar
Cukup kerbau yang dengar keluh kesahku
Bukan aku tak mau diujung rusia
Bukan aku tak mau diujung amerika
Tapi aku sadar siapa aku
Aku hanya sepotong kehidupan
Aku hanya sepotong cerita
Aku hanya sepotong kecil semua yang ada
Bahasa lirihku bercerita tentang diri yang jauh dari kesempurnaan hidup

 

AKU DAN KAMPUNGKU


Oleh: Khoirul Taqwim


Malam pukul sembilan tepat
Bulan tak datang jua hari
Bintang sesekali tengok bumi yang lagi merindu
Dingin rasa menggigil
Tak lari semut menggelitik badan
Ganggu buta benar semut dalam diri
Kamar kecil segi empat kotak kecil mungil
Buku luak tak tertata disamping bayangku
Berdiri sahabat jokor yang lagi minum kopi hangat
Kepala geleng-geleng sakeng enaknya 
Bikin dia lupa bahwa hari ini dia berduka lara
Ya!....yu sriah pacar jokor kemarin lusa nikah
Kopi benar bikin lupa sejenak masalah
Soal kesehatan
Ah……..itu urusan Tuhan
Teringat kyai musholla khutbah waktu jum’at kemarin
Kata dokter hando laen
Kopi bikin orang sakit
Bikin penyakit
Bikin stress
Ah terserah mana yang benar
Nilai sendiri dalam diri
Yang penting hari aku lagi merindu si dia
Jangan salah sangka merindu si dia apa??..
Maksudku dalam hati merindu
Merindu kambingku besok yang harus dikasih makan
Saat terbit mentari diujung timur
Merindu ayamku yang sakit gara-gara kedinginan
Kuharus cari obat 
Walau lari diujung kulon
Tapi aku tak mau lari diujung selatan
Rasa takutku kalahkan mauku
Aku masih punya hutang pok Rah diujung selatan
Takut mata jelalatan pok Rah
Ringan mulut pok Rah
Walau kadang hati besar kan datang
Saat pok Rah ada mau dalam rasa
Nitip salam pak Raden kepala desa
Kebetulan pak Raden lagi duda
Kebetulan pula pok Rah lagi janda
Kebetulan suka dalam sama
Moga saja tak seperti matahari dan bulan yang tak pernah ketemu dalam ujung
Teringat kata parmen seminggu kemarin
Kata parmen pok Rah janda kembang nomer wahid didesaku
Umur baru tiga puluh Satu tahun
Anak baru Satu
Umur dua tahun
Anak wanitanya kecil seputih ibunya
Kasihan umur sekecil itu harus jadi yatim
Kasihan umur sekecil itu harus menantang zaman
Dalam hati kecilku terketuk rasa kasihan
Teringat juga waktu parmen bilang sama jokor
Mau Kor kamu nikah sama pok Rah
Ngawor kamu Men
Teriak Jokor sambil tertawa
Langsung parmen jawab dengan lembut
Canda dalam tawa Kor jangan diambil hati
Hahaha…..tawa kami bertiga jadi satu nada melodi
Bukan masalah mau apa tidak
Kata Jokor sambil kakinya diangkat kekiri
Tetapi dia sudah ada dalam hati rasa
Mau kemana jika hati sudah tak lari
Pok Rah kan tau sendiri lagi demen ama pak lurah
Duda ketemu janda jadi satu dalam hati
Aduhai rasa puber jilid dua telah tiba
Mau kemana rasa
Mau kemana jiwa
Tunggu apa dalam dada
Kawin saja enaknya
Hahaaaa….senyum kulum kami bertiga
Tinggal sembelih ayam
Sembelih kambing
Sembelih sapi kalau tak sayang kantong
Jangan lupaundamg seluruh kampung
Cit cuuuuuuiiiiit!!...............
Teriakku dalam hati
Tak terasa aku mulai merindu kembali segudang memory
Paling merindu dalam daku
Merindu kerbauku yang lagi masuk angin
Gara-gara ambruk kandang waktu hujan datang
Merindu, merindu dan merindu benar malam ini

Di sudut kamar
Kutengok dalam curiga rasa
Ada apa dengan jokor
Tanya dalam hati kecilku
Eeeeeeeeeh!!.. aku terperanjat
Rasa heran tersimpan dibalik jeruji rasa ingin tauku
Terlihat jelas dikelopak mataku
Jokor geleng kepala lagi saat sedu kopi dengan lahap
Kulihat dengan lirikan sejenak
Ternyata lagi-lagi aku terbawa gelengan kepala jokor
Gerak kepala jokor membuka memory seminggu silam
Ingatkan aku waktu baca do’a tetangga yang meningal tepat tujuh harinya
Masyarakat bilang tahlil namanya
Orang bilang itu budaya NU
Ada yang bilang lagi itu syari’at NU
Bilang, bilang dan bilang tentang tahlil
Itu tak ada di agama 
Itu melanggar agama 
Itu tak ada di Al-qur’an
Bahkan haditspun tak ada yang menyebutkan tahlil
Kata sahabatku Fanny yang kemarin baru pulang dari Universitas mesir Al-Azhar
Maklum dia lupa desa yang melahirkan 
Lupa pematang sawah
Lupa layang-layang yang terbang saat panen padi tiba
Lupa adu jangkrik
Lupa adu jago
Dan dia lupa adu merpati
Saat sore kan tiba
Pola pikir semua dikaitkan dengan study waktu di Mesir
Tangan digerakkan saat bicara
Mata melirik saat ngomong ada dalam otaknya
Teks kebenaran mutlak
Kata Fany si badan kurus
Dia lupa ada konteks dalam hidup
Campus Al-Azhar mesir jadi hidupnya
Jadi tumpuan ilmunya
Jadi kebenarannya
Jadi kemutlakan
Jadi, jadi dan jadi bagian dari hidupnya
Dia lupa ada campus kehidupan desa yang masih dalam fitrahnya
Dia lupa kakek nenek yang butuh do’a-do’a
Dia lupa tuhan berkehendak apapun bisa
Dia lupa, dia lupa dan dia lupa si Fany badan kurus

Teringat dalam sepi
Sendu gemulai selimuti hati rasa
Pikiran melayang sejenak
Otak dibuat rasa dalam sedu
Hati gelisah saat ingat si Fany sahabat kecilku
Tentang Fany memory terbawa malam
Fany sahabatku yang cerdas masalah Teks
Hafal banyak hadits selebar jagat
Bahkan hafal Al-Qur’an setebal bis mini
Tapi sayang pikirku
Pikirku dia lupa budaya asli
Pikirku dia lupa kampung 
Pikirku dia lupa tepo seliro yang diajarkan neneknya
Pikirku dia lupa kambing yang lagi makan rumput hijau
Pikirku dia kebanyakan makan roti lupa jagung bakar
Pikirku, pikirku dan pikirku tentang Fany………
Tak kuteruskan bahasa pikirku
Terserah otak mau ngomong apa
Tentang aku, tentang dia dan tentang semua
Dia punya hak dalam naluri
Dia punya pendapat dalam otak
Apalagi sekelas tamatan Al-Azhar mesir di Afrika utara
Dia yang patut ngomong agama
Tapi dia tak berhak menghakimi penduduk kampung nan lugu dalam tindak-tanduk
Pikirku tentang pendapat Fany si badan kurus
Apalagi jadikan penduduk kampungku jadi tersangka agama
Lagi-lagi pikirku dalam hati
Si Fany badan kurus punya hak lebih
Gelar mister dipundaknya
Maaf Fany bukan aku menolak
Tapi Cuma tak sependapat
Teriakku dalam jiwa yang keruh
Tapi Fany kamu punya hak berekspresi
Berkarya dalam tulis
Bahkan dalam aksi
Bukan aku yang punya hak, bukan aku yang punya hak dan bukan aku yang punya hak………….. 
Terulang bahasa kegelisahan
Ma’af Fany lagi-lagi cerewet dalam jiwaku kambuh
Bicara lirik-lirikku mulai lagi
Aku sebatas hafal minum kopi
Bukan hafal hadits seluas jagat
Apalagi Al-Qur’an setebal bis mini
Tapi aku hanya ingat apa yang diajarkan kampungku
Bukan digedung kampus UIN Yogyakarta
Bukan dicampus UGM terkemuka
Bukan di UI depok dekat BSI
Apalagi universitas sekelas Al-Azhar mesir
Soal agama aku tidak sepintar Fany
Nilaiku jeblok semua
Tak ada yang harus dibanggakan
Apalagi tindakanku jauh dari moril agama
Tidak kayah Fany hidup selalu dimasjid 
Selalu Qur’an ditangannya
Walau sesekali aku melihat Fany lagi deketi cewek berkerudung putih
Maklum dia ayu rupawan
Anak pak haji Roib
Orang terkaya dikampungku
Orang bilang Azizah namanya
Walau hati tergoda sesaat
Ah aku ini siapa??...
Tanyaku dalam diri
Tak pantas diri mimpi tentangnya
Apalagi berharap
Tentu Fany akan berkata haram hukumnya
Sebelum terhukum diri
Bahasa menjauh itu lebih nyaman dibanding aku mendekat
Ah!..soal Azizah itu urusan Fany
Nanti dikira kalau bilang soal ini
Orang nyangka aku iri hati
Sory bos aku masih punya nurani
Pikirku kecut tentang Azizah
Hahahaa……….tertawa dalam hati diri

Malam semakin jemput pagi
Mentari masih malu tersenyum
Adzan shubuh tak tiba datang
Pikirku lagi-lagi soal Fany si badan kurus
Soal agama Tanya Fany
Dia dari mesir 
Tafsir Hadits dia hafal selangit
Jangan Tanya soal tafsir sama aku
Tajwid saja aku tak pecus
Lagi lagi sahabatku Fanny yang kemarin baru lulus dari Al-Azhar teringat dalam bahasa
Ayo kita luruskan masyarakat kampung
Kita gerakkan dia sesuai dengan teks agama
Ajaknya padaku
Pikirku dia lupa ada konteks dalam hidup
Lagi-lagi yang ada di otakku
Apalagi dikampungku yang telah lama dibangun fondasi kehidupan
Tapi itu hanya dalam hatiku yang lagi terkunci bisu
Aku tak berani jawab
Bukan karena takut
Tapi yang benar aku pengecut kata kyai kampungku

Mentari mulai tak malu putri
Sambut hangat jagat raya
Sinarkan terang dalam pagi buta
Sesekali menyengat kulit yang lagi lara
Pagi buta tak nyana tak kira
Aku ketemu kyai mushola dikampung 
Kyai lagi duduk diteras rumah
Kuhampiri sejenak dalam langkah
Kucium tangannya
Apa tau disitu letak berkah
Kata si Naksir yang kemarin pulang dari mondok
Kududuk dekat pak yai
Merekat, mendekat dan menatap
Tapi tak mendekap
Aku cerita si Fany yang baru lulus dari mesir kemarin
Pak yai dengar ceritaku tanpa kata
Dia simak dengan mata setajam seekor burung hantu
Siap memangsa saat lapar kan tiba
Jiwaku berdenyut keras
Takut kepalang pintu hatiku 
Lihat tingkah mata pak yai mushola
Ganti alih bahasa dia dengan tangan menggenggam 
Seketika aku di bawa imagi tikus ketemu kucing
Gemetar dada ini
Hati ini mau copot terasa
Kulihat dari mata kecilku
Seketika wajah pak yai memerah
Pak yai berdiri sejenak ambil susu hangat
Kiraku kayah gitu
Pikirku seperti itu
Soalnya hari kemarin pak yai ngasih susu sapi sama aku
Tapi persepsi yang kubangun salah
Ternyata pak kyai lagi bawa kitab kuning 
Apa mau khutbah pak yai??..
Tanya dalam hati dunguku
Ini bukan hari jum’at
Jawab otakku
Ini hari minggu pagi
Lihat kalenderku
Jawab memory yang terpajang didinding otak
Pak yai tanpa basa-basi sejenak menghela nafas
Dia langsung bicara lantang suara
Ingatkan aku waktu dikodam brawijaya kemarin siang
Tegas lugas komandan siapkan barisan
Untung saja pak yai tak bawa senapan cuma bawa kitab kuning
Dia baca bahwa mendo’akan orang meninggal itu dianjurkan 
Bahkan wajib sesama muslim mendo’akan
Panjang lebar yai khutbah pagi khusus tuk aku
Lagi-lagi aku tak paham apa yang dikata kyai mushola
Tau sendiri aku tak pernah makan bangku sekolah 
Jangankan jadi mahasiswa kayah si desi yang cantik permai
Bangku SD kelas 1 aku sudah di DO
Bukan karena aku tak semangat
Tapi cuma aku anak buruh petani kecil
Makan saja susah kepalang
Apalagi mikir makan bangku sekolah

Hari semakin panas
Sesekali terlihat burung camar lagi bernyanyi di TV
Kusedu sedan dalam tawa
Resah gelisah jadi satu
Ma’af pak yai saya mau ngasih kabar tentang aku
Pak yai aku hanya tau kambing selagi makan rumput
Tentang ayam lagi berebut makan
Kerbau yang lagi mandi disungai keruh
Sapi yang lagi bantu pak tani disawah
Kucing yang lagi bunting
Jadi jangan khutbah pagi buta padaku
Percuma pak yai
Bahasa terkunci dalam bibirku
Apalagi kamu tanya’ tentang agama
Jadi jangan kamu tanya’ diluar nalarku
Cukup kamu Tanya kabar Ratih
Kabar Clurut
Kabar Cikrak
Kabar si anu si itu
Mungkin aku bisa jawab
Walau belum terpuaskan
Soalnya aku bukan alat pemuas
Usulku pak yai, usulku pak yai dan usulku pak yai dalam hati keruh
jangan kamu gurui aku
Percuma kyai!...
Aku tak paham apa yang kau kata
Kalau pengen ngomong agama 
Pak yai ngomong sama si Fany yang baru lulus Al-Azhar mesir
Sama Rano yang baru tamat UIN Yogya fakultas dakwah kemarin
Eeeeeeeeeeeh!....ternyata
Bahasaku tadi
Hanya hati kecilku bicara
Bukan nyata
Tapi mulutku tetap terkunci rapat tepat pada tempat
Lagi-lagi aku bisu membuta
Kayah kambingku
Kerbauku
Ayamku
Tapi jangan bilang kayah bebek
Bukan aku tak mau disebut itu
Cuma aku tak punya bebek hari ini
Sebulan kemarin sudah terjual
Soalnya sandal jepitku lagi putus
Jadi aku butuh sandal jepit baru

Terik matahari mulai meninggi
Cahaya sinar menyentuh kulit hitam tipis
Kambing mulai berteduh disudut-sudut pohon
Tampak dari jauh pak tani mulai lepas lelah
Aku berjalan disetapak jalan
Nan riang 
Nan damai dalam jiwa
Lihat sawah hijau nan indah rupawan alam
Tak sengaja aku ketemu kancil diwarung kopi kecil mungil
Ukuran kurang lebih empat kali empat meter
Kancil sapa aku penuh sahabat
Dia kata padaku
Mau apa dan ada apa??.
Tanya padaku
Kubilang aku lagi pengen rokok Surya
Gampang soal rokok 
Kata kancil menggigil
Tapi ada syarat
Berkata lagi kancil sambil menjilat
Tolong aku dibantu
Gaet anak pak budi
Sudah tak usah dipikir panjang cil 100 persen kamu ditolak
Jawabku sedehana
Tau sendiri pak budi itu siapa
Dia wakil bupati
Apa mungkin anaknya dikasih kamu saat kau lamar
Tapi aku tetap dibelakangmu
Asal ada rokok surya
Hahaha….senyum candaku
Kan dukung selalu jika kamu ingin jadi mantu pak budi
Tapi tolong kambingmu itu diganti mobil BMW
Jika ingin punya mertua wakil bupati
Baju lusuhmu itu diganti merk dari Australia
Bila ingin pak budi senang
Tau sendiri pak budi suka merk luar negeri
Kulihat kayah gitu cil
Kataku sama kancil julukan dari bowo
Memang cil kadang pak budi saat dipetani dia orasi sekencang mabuk angin darat
Bikin maju produk desa 
Jangan lupa pakai produk desa
Itu kampanye pak budi kemarin
Waktu jadi kandidat calon wakil bupati
Cari massa itu bagian politik
Waah aku terlalu jauh ngomong politik 
Tak pantas SD tak tamat ngomong politik praktis
Aku cukup ngomong kambingku saja cil
Pikirku dalam hati
Lagi-lagi hatiku yang komat-kamit
Bukan mulutku yang terucap
Lima belas menit tak terasa
Ngobrol tentang si Budi wakil bupati
Untung obrolanku belum sampai kecady
Nanti ujung-ujungnya pejabat negeri
Jadi obrolan panas terik mentari
Kaget hati ketiban suara
Kancil teriak!..teriak!..secepat kereta 
Boh nah penjual warung
Seketika Hati boh nah terasa copot kayah ban waktu lepas dari sepeda ontel
Tolong boh nah apa mau sahabat saya
Jerit kancil dengan seru gurau
Kasih jangan pake’ acara lama
Waah bahasanya kayah anak baru gede
Apalagi acara tidur kayah disenayan
Waah!..kritik lagi keluar
Langsung tanpa curiga
Mulutku komat-kamit menghitung apa yang kumau
Diwarung kecil sederhana aku kayah Raja
Tolong boh nah aku butuh kopi hangat
Sebutku sama boh nah
Ambilkan juga korek buat nyalakan rokok suryaku
Siang ini sejenak aku punya pelayan
Sombongku kambuh lagi
Walau uang kantong tak ada
Paling tidak nikmati hidup jadi raja
Hayalku dalam mimpi waktu tidur sambil ngiler

Mendung terang semakin minyingsing 
Gelap mulai mendekat dihari
Angin sawah tak henti menari
Padi hijau sambut sore kan tiba
Kodok-kodok pematang sawah mulai gerak
Siapkan pentas semalam suntub ditepi sungai
Dicelah hatiku yang penuh rasa ingin tahu
Lagi-lagi hati terusik memory
Rasa yang tak penah hilang dalam pikir
Kambuh terjadi dalam otak
Penyakit ingat jadi lagi
Kopi kusedu
Rokok dimulut
Terasa surga diwarung boh nah
Ini yang kucari rasa dalam pikir
Disudut mata rancuku
Memory terbuka lebar 
Selebar daun kelor pagi berembun
Teringat Fany 
Teringat pak yai mushola
Bukan diskusi-diskusi yang kucari
Bukan teks yang kumakan
Bukan marah-marah pak yai tiap aku cerita Fany
Emang kancil ngerti mauku
Pikirku sejenak lepas lelah
Kancil memang paham apa yang ada dalam otakku
Kayah kambing, kerbau dia tau apa kusuka
Sori cil bukan aku menyamakan kamu dengan binatang
Tapi aku coba bicara dikit bahasa idiom
Walah!..kayah anak kuliah omongku
Seketika aku sadar
SD aku droop out
Mau ngomong yang tidak-tidak
Kalau denger sifanny mau ditaruh mana mukaku

Matahari mulai terbenam
Tak henti air mengalir disungai bengawan
Pohon-pohon nan rindang berkicau lewat angin udara
Burung-burung sejenak lepas lelah
Udara semakin hilang panas
Cahaya mulai menipis
Sore datang jemput gelapnya malam
Hari tak terasa sudah tiga jam diwarung boh nah
Ngomong ngalor ngidul sesekali ngomong selatan 
Terasa waktu sependek centi dalam biji
Aku teringat kembali kata kakekku yang suka naik kerbau
Dia bilang dalam mimpiku
Orang pandai tak hanya dibangku kuliah
Di mushola-mushola agama
Ternyata ada diwarung kecil milik boh nah
Kesimpulanku sementara
Jadi jangan kamu bilang ngawor dulu
Sory pak yai si fany bukan aku ngeyel
Ini Cuma bahasa hati bukan mulutku yang bicara
Terucap dalam bibir kecutku
Hati terasa berbunga laut
Bengawan indah dalam cerita
Menakutkan saat banjir kan datang
Terima kasih boh nah 
Terucap dari mulut kecilku
Tak sadar aku bicara diwarung kecil mungil milik boh nah
Kenapa mulutku tak terkunci diwarung boh nah
Kenapa bibirku bicara saat minum wedang boh nah
Apa diwarung boh nah ada demokrasi
Apa disini ruang demokrasi??..
Tanya dalam jiwaku
Apa tak milik senayan ruang demokrasi??..
Pikirku sejenak dalam hati
Apa mungkin pikirku terlalu jenius??..
Hingga berpikir dari warung boh nah hingga senayan
Atau pikirku goblok??..
Menghubungkan senayan dengan warung boh nah
Kegelisahan mulai muncul 
Mirip munculnya matahari saat terbit
Ternyata pertanyaan tadi salah sumua
Tak ada hubungan senayan sama warung boh nah
Pendapatku muncul lagi
Walau masih 50 prosen
Yang 50 prosen aku berpikir
Bahwa rakyat dan DPR ada hubungan 
Kata undang-undang yang kudengar
Gedung tinggi senayan itu uang pajak rakyat
Mobil mewah senayan itu milik rakyat pikirku yang lagi lupa darat
Maklum aku terena kandungan kopi boh nah
Sampai lupa kalau SD aku tak tamat
Jadi sori sekali lagi
Pak menteri
Pak DPR
Bila pikirku salah ngomong
Bila tulisku salah tulis
Harap dimaklumi SD tak tamat
Hahaha……tawaku tak ada yang dengar
Kecuali kambingku yang dengar
Dia sahabat sekaligus tumpuan nyawa saat perut keroncong
Bukan dimakan dalam perut
Tapi dijual tuk kebutuhan esok lusa

Menghujam peluru pikiran
Tersadar kopi buat semua
Cafein bikin hati melayang
Semoga saja nyawa tak ikut melayang
Pikirku tentang kopi boh nah
Ternyata sederhana pikirku warung boh nah memang pool enaknya
Buat diskusi sama kancil
Sama pakde kar
Dan tak ketinggalan selalu aktif lek parko 
Yang selalu diskusi tentang kerbaunya
Susah dimandiin waktu sore kan tiba
Aku tanya hati diri tentang efek kopi boh nah
Apa mungkin gara-gara kopi ada cafein
bikin aku terbang melayang
bikin aku lepas kunci-kunci mulutku
Wedang hangatmu bikin aku jadi apa aja yang kuingin
Tapi satu boh nah yang belum bikin aku jadi apa??..
Aku berpikir sejenak
Terlintas siti nurbaya dikelopak mataku
Oh! Ya aku teriak kopimu belum bisa bikin aku punya bini boh nah
Wakakakaaaaaaaaaaaak……….tertawa semua diwarung kopi milik boh nah
Hari mulai gelap
Kilat mulai sambut sore ini
Bentangan sawah disekeliling warung boh nah mulai hilang terang
Kuharus angkat kaki
Cil tolong bayari dulu
Kataku sama kancil
Kancil kaget seketika disamabar gledek
Wajah kancil gelap seketika 
Padahal matahari belum hilang diufuk barat
Aku lagi krisis global
Jawab sederhana kancil
Wah-wah kayak Negara amerika saja cil kamu itu
Bahasa kamu pakek krisis segala cil
Kayah bahasa rano yang kemarin baru lulus dari UIN yogya
Sori cil bukan hina
Tapi hati lagi munek
Untung saja hatiku tak mencret
Eh! Sory salah bahasa 
Namanya mencretkan bukan hati 
Tapi pantat teriak ratih yang lagi jalan bawa jagung goreng
Ikut-ikutan saja ratih yang baru umur 7 tahun
Hatiku menimpali bahasa ratih
Kuharus ngomong apa sama boh nah hari ini
Padahal seminggu kemarin hutangku belum kubayar sama boh nah
Kuambil ekspresi diluar pentas sandiwara
Berdiri sambil geleng kepala
Kubilang boh nah
Hitung berapa hutangku semua 
Total ada tiga puluh ribu sama yang dulu belum kamu bayar
Boh nah dengan muka kecut memandangku
Kubilang jangan khawatir boh nah nanti tak bayar semua hutang-hutangku
Asal boh nah do’akan aku jadi bintang film
Huahahaa….tawa boh nah rubah wajah kecut
Bahasaku pecahkan suasana suntub semua yang ada diwarung
Kamu cocok jadi ipin upin
Boh nah menyeringaiku
Kuangkat kakiku terasa berat tinggalkan warung boh nah sore ini
Seminggu sudah aku tak bayar warung boh nah
Gumam hatiku menggerutu
Kulangkahkan kakiku tinggalkan cerita hutangku
Biar tuhan yang ngatur 
Bisikku dalam jiwa
Seketika ingat tuhan aku ingat bahasa kyai Musholla
Sehari-hari rutinitas ngomong tuhan
Teringat ucap Fany
Mana mungkin tuhan kan rubah nasib suatu kaum 
Jika kaumnya tak berusaha merubah
Teringat Fany lagi saat ngobral bahasa waktu ketemu di dekat pohan pisang
Teringat, teringat dan teringat dalam memoryku
Semua serba teringat
Mungkin aku sudah ditakdir jadi taklid buta
Bukan sekelas creator
Mungkin aku dicipta sebagai pengingat memory
Bukan pencipta dalam dongeng
Tapi semua kusyukuri
Walau kadang hatiku menggerutu
Dimana letak keadilan
Damana letak kebenaran tekstual
Dimana letak kebenaran konstektual
Dimana, dimana dan dimana 
Tanya hati kecilku
Tanya hati yang beku 
Tanya hati yang terkunci
Tanya hati yang hati-hati dalam mengambil sikap tentang kampungku
Tentang binatang ternakku
Tentang semua yang kudengar
Tentang semua yang kulihat
Cukup dikampung aku belajar
Cukup kerbau yang dengar keluh kesahku
Bukan aku tak mau diujung rusia
Bukan aku tak mau diujung amerika
Tapi aku sadar siapa aku
Aku hanya sepotong kehidupan
Aku hanya sepotong cerita
Aku hanya sepotong kecil semua yang ada
Bahasa lirihku bercerita tentang diri yang jauh dari kesempurnaan hidup

 

Sunday, 24 January 2010

PERSPEKTIF JARINGAN ISLAM TRADISIONAL TERHADAP LIBERALISME



Oleh : Khoirul Taqwim


Liberalisme merupakan produk yang berasal dari barat yang berusaha menutup kebebasan masyarakat pribumi, agar di dalam suatu wilayah tersebut dapat membuka diri sesuai dengan kepentingan masyarakat barat, tindakan ini bahkan mengarah keranah wilayah agama dan wilayah-wilayah sosial yang lain .

 

Gerakan liberalisasi mengusik agama ketika mereka menuduh aliran yang tidak sesuai dengan kepentingannya di anggap sebagai penghambat kemajuan oleh para kaum liberalis yang sering menyebut masyarakat tersebut dengan bahasa heterodoksi, bahasa heterodoksi dari kata Yunani “orthodoxos”. “Orthos” artinya lurus atau lempang. “Doxa” artinya pendapat atau dogma, sehingga heterodoksi adalah pendapat atau dogma “lain” (hetero) yang dianggap menyimpang dari ajaran yang benar atau ajaran tersebut tidak lurus (menyesatkan). Lawan dari heterodoksi adalah ortodoksi dan secara istilah ortodoksi adalah ajaran atau dogma yang benar.

 

Sebelum membahas lebih jauh tentang liberalisme, lebih dahulu kita pahami tentang Liberalisme yang berkaitan dengan kata Libertas (bhs. latin) yang artinya kebebasan, dan Liberalisme mencakup banyak aliran yang berbeda artinya di bidang politik, ekonomi dan keagamaan, yang berpangkal tolak pada kebebasan orang-perorangan terhadap kekuasaan , sedangkan menurut Owen Chadwik Kata “Liberal” secara harfiah artinya bebas (free) dan terbuka, artinya “bebas dari berbagai batasan” (free from restraint).

 

Lahirnya Liberalisme merupakan bentuk pembuktian siapa yang kuat mereka yang berkuasa, tentunya ini menyalahi dari kodrat manusia yang seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Sampai sekarang komunitas Islam Liberal makin melebarkan sayapnya hingga ke perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Dampak hadirnya Islam Liberal kita bisa lihat lewat peristiwa-peristiwa menyedihkan seperti penghinaan terhadap masyarakat yang berseberangan dengan pemikirannya dengan bahasa fundamentalis, konservatif , bahkan sering mengatakan tidak logis terhadap pemikiran yang tidak sejalan dengannya, tentu ini merupakan cermin kebebasan ala barat yang bertujuan pengaburan kebenaran.

 

Masyarakat tradisional yang masih mempercayai adanya kekuatan diluar manusia, dianggap ketinggalan zaman dan perlu dihakimi dengan simbol masyarakat yang tak waras atas konsep ilmiah, tentu ini menyalahi norma-norma dalam kehidupan masyarakat pribumi yang saat ini sebagian masyarakatnya masih ada yang mempercayai keberadaan mitologi. Penghakiman Liberalisme terhadap masyarakat tradisional merupakan bentuk penolakan terhadap ajaran masyarakat pribumi, Paham liberal selalu memakai kedok kebebasan, tetapi kebebasan yang diangkat Jaringan Islam Liberal cenderung mengarah westernisasi. Tujuan ini merupakan salah satu cara penjajahan tradisi yang berupaya memasukkan paham liberal dengan mengganti paham tradisional yang ada dalam kehidupan masyarakat pribumi.

 

Jaringan Islam Tradisional merupakan wadah yang lebih arif dalam menyikapi keberadaan masyarakat pribumi, kepercayaan apapun yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat merupakan multi kultur dalam berpikir maupun mempercayai apa yang diyakini dalam jiwa dan pikiran, sebab manusia mempunyai perbedaan dan keberagaman dalam menyikapi permasalahan dalam meletakkan fondasi dasar yang tepat untuk kehidupannya.

 

Liberalisme yang digaungkan masyarakat teologi adalah salah satu pemikiran agama yang menekankan penyelidikan agama yang berlandaskan norma diluar otoritas tradisi. Liberalisme adalah keinginan untuk dibebaskan dari paksaan kontrol dari luar dan secara konsekwen bersangkutan dengan motivasi dari dalam diri manusia. Jadi liberalisme mengingkari adanya norma-norma tradisi yang lebih menekankan tepa selira (tenggang rasa), tetapi dengan adanya kebebasan individu maupun kelompok tentu akan melahirkan penjajahan yang bersifat hukum rimba (siapa yang kuat dia yang menang), sehingga Liberalisme yang dibawa Jaringan Islam Liberal cenderung mengarah westernisasi yang seolah-olah memberikan angin surga, padahal mereka ingin menjinakkan masyarakat pribumi, agar ekspansi masyarakat barat lebih mudah masuk dalam wilayah masyarakat yang masih memegang tradisi pribumi.

 

Sumber daya alam merupakan salah satu tujuan, dengan memberikan pemahaman liberalisme sudah dapat di pastikan kekayan alam dan tradisi akan hilang ditelan dogma liberalisasi, penjajahan liberalisme saat ini terus mengarah kewilayah budaya, bahkan teologi yang seharusnya sacral secara tradisi pribumi, sekarang mulai dihilangkan lewat jalur pembenaran diri lewat akal, padahal manusia mempunyai hati dan pikiran, jadi tataran agama tidak sekedar pikiran belaka, tetapi hati juga masuk dalam ranah religi, untuk itu pembenaran diri yang bersifat logika akal, belum tentu dapat diterima dalam logika jiwa.

 

C.G Jung pernah bertemu dengan masyarakat Indian, saat ditanya tentang logika, dia mengatakan hati adalah logikanya, jadi ada masyarakat yang lebih mempercayai jiwa dibanding akal, inilah keberagaman dalam kehidupan masyarakat yang seharusnya menjadi kekayaan pemikiran, bukan malah melakukan pembenaran diri yang menuduh kelompok tertentu yang tidak sesuai dengan pemikirannya dianggap konservatif, fundamentalis, heteredoksi maupun simbol-simbol lain yang bersifat negative.

 

Kelompok liberal sering mengatakan terjadinya perselisihan agama dan kemundurannya selalu dituduhkan kepada kelompok yang tidak sesuai dengan kepentingannya. Sebenarnya liberalisme merupakan paham kekuasaan yang mengarah ekspansi sosial, budaya, ekonomi, politik, agama maupun bidang-bidang lain yang dianggap mempunyai peran kekuasaan, dengan kedok-kedok seolah-olah pembebasan dari paham eksklusif (ketertutupan), padahal mereka sendiri yang terjebak dalam watak inheren dalam ortodoksi yang mengarah kepada “closure” dan “enclosure“, alias ketertutupan dan sekaligus juga penutupan diri, sebab mereka tidak mengakui adanya kebhinekaan (keberagaman) diluar dirinya, dan Kelompok-kelompok yang berpandangan di luar kerangka pemikiran liberalnya, mereka menganggap orang-orang demikian adalah heterodoks yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri .

 

Liberalisme beranggapan mempunyai andil memperbaiki beberapa kekeliruan Konservativisme ekstrim, ia tidak memberi jalan keluar yang lebih baik, malah nafas kebebasan itu berangsur-angsur membawa manusia kepada peninggian diri dan akhirnya makin menafikan tradisi pribumi dalam bentuk Liberalisme yang makin ekstrim. Yang menjadi persoalan liberalisme ekstrim yang sudah mengarah keranah ekspansi dalam segala bidang, sehingga sudah dapat dipastikan penjajahan ala liberalisme lebih membahayakan dalam kehidupan bermasyarakat, sebab westernisasi dalam fakta sejarah Indonesia telah merenggut jutaan masyarakat pribumi dipaksa menghilangkan nafas (dibunuh), kurang lebih 350 tahun bangsa pribumi dijajah bangsa barat (belanda dan sekutunya).

 

Bila para kaum liberalis secara gamblang tampak ingin menghancurkan pilar-pilar kemanusiaan dalam peradaban pribumi, justru di sini para kaum tradisionlis ingin menyelamatkan agama, karena terbukti liberal bukanlah penawar yang tepat bagi kekerasan dalam beragama. dan Kaum tradisionalis juga yang lebih tepat sebagai altenatif  penawar terhadap pandangan kaum khilafah yang mengarah kegerakan ekstrimisme agama yang ingin memasukkan budaya timur tengah dengan jalan kekerasan atau jalan apapun yang bertentangan dengan idiologi kebangsaan masyarakat pribumi

PERSPEKTIF JARINGAN ISLAM TRADISIONAL TERHADAP LIBERALISME



Oleh : Khoirul Taqwim


Liberalisme merupakan produk yang berasal dari barat yang berusaha menutup kebebasan masyarakat pribumi, agar di dalam suatu wilayah tersebut dapat membuka diri sesuai dengan kepentingan masyarakat barat, tindakan ini bahkan mengarah keranah wilayah agama dan wilayah-wilayah sosial yang lain .

 

Gerakan liberalisasi mengusik agama ketika mereka menuduh aliran yang tidak sesuai dengan kepentingannya di anggap sebagai penghambat kemajuan oleh para kaum liberalis yang sering menyebut masyarakat tersebut dengan bahasa heterodoksi, bahasa heterodoksi dari kata Yunani “orthodoxos”. “Orthos” artinya lurus atau lempang. “Doxa” artinya pendapat atau dogma, sehingga heterodoksi adalah pendapat atau dogma “lain” (hetero) yang dianggap menyimpang dari ajaran yang benar atau ajaran tersebut tidak lurus (menyesatkan). Lawan dari heterodoksi adalah ortodoksi dan secara istilah ortodoksi adalah ajaran atau dogma yang benar.

 

Sebelum membahas lebih jauh tentang liberalisme, lebih dahulu kita pahami tentang Liberalisme yang berkaitan dengan kata Libertas (bhs. latin) yang artinya kebebasan, dan Liberalisme mencakup banyak aliran yang berbeda artinya di bidang politik, ekonomi dan keagamaan, yang berpangkal tolak pada kebebasan orang-perorangan terhadap kekuasaan , sedangkan menurut Owen Chadwik Kata “Liberal” secara harfiah artinya bebas (free) dan terbuka, artinya “bebas dari berbagai batasan” (free from restraint).

 

Lahirnya Liberalisme merupakan bentuk pembuktian siapa yang kuat mereka yang berkuasa, tentunya ini menyalahi dari kodrat manusia yang seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Sampai sekarang komunitas Islam Liberal makin melebarkan sayapnya hingga ke perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Dampak hadirnya Islam Liberal kita bisa lihat lewat peristiwa-peristiwa menyedihkan seperti penghinaan terhadap masyarakat yang berseberangan dengan pemikirannya dengan bahasa fundamentalis, konservatif , bahkan sering mengatakan tidak logis terhadap pemikiran yang tidak sejalan dengannya, tentu ini merupakan cermin kebebasan ala barat yang bertujuan pengaburan kebenaran.

 

Masyarakat tradisional yang masih mempercayai adanya kekuatan diluar manusia, dianggap ketinggalan zaman dan perlu dihakimi dengan simbol masyarakat yang tak waras atas konsep ilmiah, tentu ini menyalahi norma-norma dalam kehidupan masyarakat pribumi yang saat ini sebagian masyarakatnya masih ada yang mempercayai keberadaan mitologi. Penghakiman Liberalisme terhadap masyarakat tradisional merupakan bentuk penolakan terhadap ajaran masyarakat pribumi, Paham liberal selalu memakai kedok kebebasan, tetapi kebebasan yang diangkat Jaringan Islam Liberal cenderung mengarah westernisasi. Tujuan ini merupakan salah satu cara penjajahan tradisi yang berupaya memasukkan paham liberal dengan mengganti paham tradisional yang ada dalam kehidupan masyarakat pribumi.

 

Jaringan Islam Tradisional merupakan wadah yang lebih arif dalam menyikapi keberadaan masyarakat pribumi, kepercayaan apapun yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat merupakan multi kultur dalam berpikir maupun mempercayai apa yang diyakini dalam jiwa dan pikiran, sebab manusia mempunyai perbedaan dan keberagaman dalam menyikapi permasalahan dalam meletakkan fondasi dasar yang tepat untuk kehidupannya.

 

Liberalisme yang digaungkan masyarakat teologi adalah salah satu pemikiran agama yang menekankan penyelidikan agama yang berlandaskan norma diluar otoritas tradisi. Liberalisme adalah keinginan untuk dibebaskan dari paksaan kontrol dari luar dan secara konsekwen bersangkutan dengan motivasi dari dalam diri manusia. Jadi liberalisme mengingkari adanya norma-norma tradisi yang lebih menekankan tepa selira (tenggang rasa), tetapi dengan adanya kebebasan individu maupun kelompok tentu akan melahirkan penjajahan yang bersifat hukum rimba (siapa yang kuat dia yang menang), sehingga Liberalisme yang dibawa Jaringan Islam Liberal cenderung mengarah westernisasi yang seolah-olah memberikan angin surga, padahal mereka ingin menjinakkan masyarakat pribumi, agar ekspansi masyarakat barat lebih mudah masuk dalam wilayah masyarakat yang masih memegang tradisi pribumi.

 

Sumber daya alam merupakan salah satu tujuan, dengan memberikan pemahaman liberalisme sudah dapat di pastikan kekayan alam dan tradisi akan hilang ditelan dogma liberalisasi, penjajahan liberalisme saat ini terus mengarah kewilayah budaya, bahkan teologi yang seharusnya sacral secara tradisi pribumi, sekarang mulai dihilangkan lewat jalur pembenaran diri lewat akal, padahal manusia mempunyai hati dan pikiran, jadi tataran agama tidak sekedar pikiran belaka, tetapi hati juga masuk dalam ranah religi, untuk itu pembenaran diri yang bersifat logika akal, belum tentu dapat diterima dalam logika jiwa.

 

C.G Jung pernah bertemu dengan masyarakat Indian, saat ditanya tentang logika, dia mengatakan hati adalah logikanya, jadi ada masyarakat yang lebih mempercayai jiwa dibanding akal, inilah keberagaman dalam kehidupan masyarakat yang seharusnya menjadi kekayaan pemikiran, bukan malah melakukan pembenaran diri yang menuduh kelompok tertentu yang tidak sesuai dengan pemikirannya dianggap konservatif, fundamentalis, heteredoksi maupun simbol-simbol lain yang bersifat negative.

 

Kelompok liberal sering mengatakan terjadinya perselisihan agama dan kemundurannya selalu dituduhkan kepada kelompok yang tidak sesuai dengan kepentingannya. Sebenarnya liberalisme merupakan paham kekuasaan yang mengarah ekspansi sosial, budaya, ekonomi, politik, agama maupun bidang-bidang lain yang dianggap mempunyai peran kekuasaan, dengan kedok-kedok seolah-olah pembebasan dari paham eksklusif (ketertutupan), padahal mereka sendiri yang terjebak dalam watak inheren dalam ortodoksi yang mengarah kepada “closure” dan “enclosure“, alias ketertutupan dan sekaligus juga penutupan diri, sebab mereka tidak mengakui adanya kebhinekaan (keberagaman) diluar dirinya, dan Kelompok-kelompok yang berpandangan di luar kerangka pemikiran liberalnya, mereka menganggap orang-orang demikian adalah heterodoks yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri .

 

Liberalisme beranggapan mempunyai andil memperbaiki beberapa kekeliruan Konservativisme ekstrim, ia tidak memberi jalan keluar yang lebih baik, malah nafas kebebasan itu berangsur-angsur membawa manusia kepada peninggian diri dan akhirnya makin menafikan tradisi pribumi dalam bentuk Liberalisme yang makin ekstrim. Yang menjadi persoalan liberalisme ekstrim yang sudah mengarah keranah ekspansi dalam segala bidang, sehingga sudah dapat dipastikan penjajahan ala liberalisme lebih membahayakan dalam kehidupan bermasyarakat, sebab westernisasi dalam fakta sejarah Indonesia telah merenggut jutaan masyarakat pribumi dipaksa menghilangkan nafas (dibunuh), kurang lebih 350 tahun bangsa pribumi dijajah bangsa barat (belanda dan sekutunya).

 

Bila para kaum liberalis secara gamblang tampak ingin menghancurkan pilar-pilar kemanusiaan dalam peradaban pribumi, justru di sini para kaum tradisionlis ingin menyelamatkan agama, karena terbukti liberal bukanlah penawar yang tepat bagi kekerasan dalam beragama. dan Kaum tradisionalis juga yang lebih tepat sebagai altenatif  penawar terhadap pandangan kaum khilafah yang mengarah kegerakan ekstrimisme agama yang ingin memasukkan budaya timur tengah dengan jalan kekerasan atau jalan apapun yang bertentangan dengan idiologi kebangsaan masyarakat pribumi

Saturday, 23 January 2010

KEBIJAKAN JARINGAN ISLAM TRADISIONAL DALAM MENYIKAPI TRADISI



Oleh: Khoirul Taqwim

 

Kebijakan JIT dalam menyikapi tradisi pribumi lebih mengedepankan tepa selira (tenggang rasa), sebab bagimanapun juga tradisi merupakan warisan leluhur yang perlu dilestarikan dan dimajukan, kita sebagai anak bangsa yang sudah seharusnya berusaha semaksimal mungkin menjaga dan memajukan tradisi yang ada dalam kehidupan masyarakat, agar tercipta nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan masyarakat pribumi yang lebih arif dan bijak, sehingga tradisi pribumi mampu lebih progress dalam mengarungi kehidupan zaman, dan tradisi pribumi agar tidak tergantikan oleh tradisi barat maupun bangsa lain yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita.

 

Sebelum memberi pandangan tentang kebijakan JIT terhadap tradisi, terlebih dahulu memberikan pengertian tentang tradisi itu sendiri, agar dapat memahami apa itu Tradisi ? pengertian tradisi yaitu: gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun-temurun. Dan tradisi dipengaruhi oleh kecenderungan untuk berbuat sesuatu dan mengulang sesuatu sehingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat.

 

Pandangan Jaringan Islam Tradisional tentang kehidupan bermasyarakat, tidak hanya ekspresi syari’ah yang memberikan eksistensi ditengah-tengah keberagaman, tetapi memberikan pandangan tentang eksistensi diberbagai sistem sosial, dan pandangan JIT lebih kompleks tentang kehidupan sosial, yaitu merupakan ekspresi nilai-nilai Islam dengan nuansa yang luas dan target yang lebih jelas.

 

Nilai-nilai tradisi masyarakat diantaranya: Kerjasama atau Tolong menolong diantara sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat merupakan nilai-nilai yang agung (mulia) yang sudah lama berjalan didalam kehidupan masyarakat tradisional.

 

Masyarakat tradisional secara nyata membentuk tatanan atas dasar pandangan hidup tepa selira sebagai wujud menuju keadilan sosial, tanpa menghakimi kelompok-kelompok lain yang berseberangan dengan pemikirannya, sebab kebhinekaan merupakan bagian jati diri bangsa yang harus dijaga dan di hormati.

 

Masyarakat tradisional tidak menyukai adanya keserakahan pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil (monopoli) kekayaan yang ada dalam masyarakat pribumi, apalagi terjadi adanya pembunuhan tradisi yang dianggap sacral, sebab bagimanapun itu merupakan khazanah budaya yang diwariskan para leluhur, penolakan tersebut atas dasar memajukan tradisi sendiri di banding memakai tradisi bangsa lain yang tidak sesuai dengan karakter masyarakat pribumi.

 

Keadilan sosial merupakan tujuan masyarakat pribumi, agar tercipta keberlangsungan hidup yang lebih layak, untuk itu tradisi yang dibangun masyarakat liberal yang cenderung mengarah kesistem kapitalisme, tentu itu tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat pribumi yang lebih menekankan nilai-nilai kemanusiaan, dibanding kepentingan individu yang melahirkan keserakahan dan cenderung mengarah pengingkaran nilai-nilai kemanusiaan yaitu tentang keadilan sosial yang seharusnya dikedepankkan, bukan memperkaya diri tanpa memperdulikan kehidupan masyarakat yang tidak mampu dari segi ekonomi.

 

Langkah-langkah Kebijakan jaringan Islam tradisional dalam menyikap tradisi yaitu:

 

1.      Mendorong kemajuan tradisi yang ada dalam kehidupan masyarakat pribumi, dengan cara memberikan perlindungan dari penghakiman budaya luar yang ingin melakukan tindakan destruktif (merusak) tradisi masyarakat, baik dari paham Liberalisme ala barat, maupun Khilafah ala timur tengah atau tradisi-tradisi dari bangsa-bangsa lain yang ingin menjajah dan mengganti Induk dari tradisi masyarakat pribumi.

 

JIT bagaimanapun juga mengakui keberagaman masyarakat tradisional, oleh sebab itu JIT menentang adanya monopoli tradisi luar yang membahayakan eksistensi masyarakat tradisonal, apalagi mengganti induk keberadaan tradisi masyarakat pribumi, tentu itu merupakan pembunuhan karakter yang sangat membahayakan dalam kehidupan masyakat.

 

 

2.      Mengembangkan kompetensi masyarakat dengan tujuan agar tercipta tradisi yang lebih maju, dengan menggali tradisi yang sudah ada dalam kehidupan masyarkat, dan agar dapat mengetahui bahwa tradisinya lebih berharga dibanding tradisi bangsa lain yang cenderung tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat pribumi, sebab watak masyarakat sudah mendarah daging dalam kehidupannya, sehingga apabila induk kebangsaan terganti oleh sistem luar yang cenderung menjajah, tentu akan menghilangkan makna tradisi masyarakat pribumi tersebut.

 

 

3.      Pada dasarnya pemikiran JIT (Jaringan Islam Tradisional) bertujuan untuk memajukan tradisi yang berasal dari pribumi, dengan cara mengelola melalui pengorganisasian dan lebih mengedepankan Fondasi dasar JIT yaitu tepa selira (tenggang rasa) sebagai wujud mengakui adanya perbedaan yang ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat,

 

4.       Membuat pengawasan terhadap tradisi luar yang mencoba merusak tradisi masyarakat pribumi, Liberalisme, teokrasi maupun isme-isme lain yang dipaksakan masuk dalam tradisi pribumi,  padahal tradisi tersebut tidak sesuai dengan karakter bangsa pribumi, maka JIT akan menolak Ide-ide luar tersebut.

 

     Tradisi luar yang ada saat ini, baik berangkat dari Liberalisme maupun paham lain yang lebih cenderung menghakimi tradisi pribumi dengan dalil modern maupun religi, yang sebenarnya telah dibelokkan dari kepentingan kemanusiaan, tetapi sudah dimasuki ranah politik kepentingan mereka, tentu itu menyalahi hakikat kemanusiaan masyarakat pribumi.

 

Paham dari luar yang sering menyesatkan baik dengan cara pendekatan rasio (akal) maupun pendekatan agama, padahal kepentingan mereka adalah politik dan mengambil kekayaan masyarakat pribumi, tentu itu merupakan penjahan ala masyarakat luar yang seolah-olah menjadi juru penyelamat, padahal mereka menginginkan sumber daya alam dari bangsa  pribumi, Liberalisme dan paham Khilafah dianggap menyalahi induk dari adanya kebhinekaan yang di junjung tinggi masyarakat tradisional, sebab tradisi luar tersebut bertentangan dengan jati diri masyarakat pribumi.

 

Paham liberal maupun khilafah sering menghakimi masyarakat pribumi atas nama politik maupun atas nama lainnya, dengan menuduh konservatif, fundamentalis dan yang lebih parah lagi menganggap sesat dan mengkhafirkan keberadaan tradisi pribumi, JIT tentunya akan menolak pandangan tradisi yang demikian,

 

Jaringan Islam Tradisional akan memberikan pendapat tentang tradisi luar yang berusaha merusak eksistensi masyarakat pribumi, sebab cara tersebut sudah melanggar nilai-nilai tepa silira yang dibangun masyarakat tradisional.

 

Kebijakan Jaringan Islam Tradisional dalam melakukan tindakan manajemen  dengan sistem pengawasan merupakan suatu bentuk proses menjaga atau memfilter pemikiran luar yang cenderung merugikan kepentingan masyarakat pribumi, sebab paham luar tersebut mempunyai tujuan mengambil induk dari eksistensi paham masyarakat pribumi.

 

Keberadaan JIT yakni berusaha memajukan tradisi dengan cara menggali tradisi pribumi itu sendiri yang lebih kreatif dan inovatif, tanpa menghilangkan nilai-nilai tepa selira yang dibangun masyarakat tradisional sejak pendahulu kita, dengan cara melihat dan menggali kondisi masyarakat pribumi, agar tidak hilang nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kehidupan masyarakat tersebut.