Wednesday, 24 February 2016

Membedah Paradigma Barat, Membangun Paradigma Islam


By: Khoirul Taqwim

Paradigma pada dunia pendidikan Indonesia, tak lepas dari pengaruh paradigma barat dalam menjelaskan beragam persoalan tentang kehidupan. Bahkan yang sungguh memprihatinkan banyak pelajar yang taklid buta dengan paradigma barat dengan mengamini, tanpa ada sebuah kritik maupun upaya dalam melakukan sebuah kajian ulang tentang paradigma barat.

Membedah paradigma barat di butuhkan sebuah analisa tentang Pokok-pokok ajaran barat dalam melakukan beragam kajian. paradigma barat cenderung mengarah tentang masalah logika, padahal logika yang di bangun paradigma barat hanya mengambil satu kajian dalam makna Sepotong-potong dalam menerjemahkan sebuah persoalan, dan setelah itu mengambil sebuah kesimpulan, tanpa melihat Premis-premis kecil yang lain.

Sedangkan paradigma Islam berupaya membangun pondasi ilmu pengetahuan dengan bentuk sebuah keseimbangan antara teks maupun konteks. Sehingga menghasilkan sebuah pola pikir yang kaffah dan tidak cenderung mengarah pada satu dalil dalam mengambil di setiap persoalan.

Bangsa barat sangat pandai bermain dalam wilayah rasional, untuk mengungkapkan sebuah yang di anggap kebenaran, padahal kebenaran yang di bangun cenderung kebenaran semu dalam menerjemahkan sebuah persoalan, tetapi sangat mengherankan banyak dari kaum pelajar di seluruh dunia yang tergila-gila dengan bangunan paradigma barat dalam mencari sebuah kebenaran.

Memang sangat di akui, bahwa logika dalam pemahaman barat telah di jadikan alat mencari sebuah kebenaran, tetapi logika paradigma barat hanya bertumpu pada kekuatan rasio, padahal permasalahan kehidupan sangat kompleks, tidak hanya sebatas masalah logika, namun jauh dari itu banyak misteri kehidupan yang tidak dapat di ungkap secara rasional. Kalau segala problem di selesaikan dengan kekuatan rasio, tentu akan menghasilkan sebuah kajian yang tidak seimbang dalam menerjemahkan sebuah persoalan.

Bangunan Islam dalam melakukan sebuah rekonstruksi paradigma pemikiran, tak lepas antara teks maupun konteks dalam menerjemahkan dalam sebuah persoalan, agar dalam melakukan sebuah permainan logika tidak mengalami over rasio yang mengakibatkan destruktif dari sisi yang lain.

Wajah paradigma barat cenderung pada satu sisi rasio dalam menerjemahkan sebuah persolan, Misalnya masalah paradigma kapitalisme cenderung satu sisi tentang kebebasan individu, begitu juga marxisme cenderung mengarah kediktatoran sosial. Berangkat dari dua contoh inilah, bahwa paradigma barat terjebak dalam satu sisi analisa dalam kajian, tetapi Islam mengajarkan secara kaffah dalam kehidupan.

Persoalan kehidupan begitu kompleks dalam tatanan sosial, tentu tidak hanya dapat di cari dalam satu sisi, tetapi harus di terjemahkan dalam beragam sisi, agar terjadi sebuah keseimbangan dalam mengkaji sebuah persoalan, dan semua itu di butuhkan sebuah kajian dalam bangunan secara lengkap dalam mengambil sebuah kesimpulan.

Liberal merupakan bagian dari ajaran bangsa barat tentang kebebasan, tetapi liberal dalam pemahaman para penggila gagasan paradigma barat, ternyata cenderung terjebak dalam kebebasan individu dan paling banter kebebasan dalam kelompoknya. Sehingga gagasan liberal yang di bangun barat hanya sebatas pada nilai secara parsial. Sedangkan bangunan dalam paradigma Islam tidak hanya sebatas sebuah pada Nilai-nilai kebebasan individu maupun kebebasan kelompok, tetapi membangun sebuah pondasi tentang Nilai-nilai kemanusiaan, moral, keadilan, kesejahteraan dan masih banyak lagi dalam ulasan tentang kehidupan.

Membedah paradigma barat tak lepas dari sebuah kajian tentang rasio dalam setiap memaparkan sebuah dalil, tetapi Islam berbicara melalui perpaduan antara jiwa dan akal dan di bungkus dalam istilah wahyu, tentu Islam berusaha membangun sebuah tatanan paradigma secara kaffah dalam kehidupan masyarakat secara luas.

Dari ulasan diatas dapat di ambil sebuah pemahaman, bahwa paradigma barat hanya mengambil satu sisi dalam menerjemahkan tentang sebuah persolan, tetapi Islam mengambil dari berbagai sisi secara kaffah, agar terjadi sebuah corak pandang yang bijaksana dalam mencari sebuah kesimpulan. Dan Allah lebih mengetahui segala Ilmu, Dia menciptakan dan memilih apa saja yang di kehendaki-NYA.

Tuesday, 23 February 2016

Menentukan Jenis Kelamin HAM ala Islam Tradisional


By: Khoirul Taqwim

Jenis kelamin HAM yang ada di Indonesia masih bersifat abu-abu, padahal sudah semestinya HAM berpihak pada kearifan lokal, dan menjunjung tinggi falsafah tepa selira, bukan kebebasan dan keterbukaan yang berpangkal pada westernisasi.

HAM di Indonesia tak jarang menjadi alat westernisasi. Sehingga banyak kebijakan para pengiat HAM yang lebih membela rok mini, dari pada menegakkan nilai-nilai sopan santun ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Nah! kalau HAM di Indonesia sudah berbentuk westernisasi, berarti HAM di Indonesia telah menjadi propaganda para penggiat westernisasi dalam menegakkan nilai-nilai yang diusung dari bangsa barat. Mengingat nilai-nilai bangsa barat tak jarang bertentangan dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Keberadaan HAM di Indonesia bagai buah simalakama, bagaimana tidak? HAM terlihat indah dibagian luarnya, tetapi sangat menusuk dibagian dalamnya, tentu ini merupakan sebuah fakta yang tak dapat dipungkiri atas nama HAM yang ada dinegeri Indonesia.

Berbagai gagasaan HAM memang terasa indah, apabila tidak bisa membedakan antara falsafah tepa selira dengan falsafah liberalisme ala barat. Karena HAM tak jarang berlindung atas nama liberalisme, padahal liberalisme yang dibangun dalam paradigma HAM bersifat westernisasi, tetapi bukan falsafah tentang sopan santun dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat.

Menentukan jenis kelamin HAM di Indonesia, sudah semestinya menggali dari falsafah nilai-nilai kearifan lokal, dan berpangkal pada nilai-nilai agama Islam, agar terjadi sebuah sinergi yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Mengingat kearifan lokal merupakan kepribadian dan watak masyarakat, sedangkan nilai-nilai ke-Islaman merupakan ajaran agung dalam menentukan arah kebenaran dalam kehidupan didunia maupun diakhirat.

Islam tradisional merupakan sebuah gagasan dalam menggali kearifan lokal yang bertumpu pada nilai-nilai ke-Islaman. Sehingga Islam tradisional terus berupaya memberikan sebuah pandangan tentang berbagai fenomena klasik sampai fenomena kontemporer yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat secara luas.

Semoga Allah SWT selalu memberi pencerahan kepada para pembaca tulisan singat ini, Amiin.......

Monday, 22 February 2016

Islam Vs Barat


By: Khoirul Taqwim

Masyarakat Islam dengan bangsa barat sudah terlahir sejak dahulu kala sebagai wadah antara pro dan kontra dalam menyikapi beragam realita kehidupan. Sehingga Islam tak jarang berseberangan dengan pola pikir bangsa barat yang cenderung mencari kelemahan masyarakat Islam di segala aspek kehidupan. Bahkan bangsa barat dalam catatan sejarah sampai saat ini tak jarang menggunakan senjata dalam melawan masyarakat Islam.

Benturan Islam dengan bangsa barat sudah terjadi sejak masa silam. Bahkan cenderung pertarungan warisan yang sampai saat ini masih berlanjut. Sehingga wajar informasi bangsa barat sering menyudutkan masyarakat Islam dalam pemberitaan. Inilah fakta lapangan yang sudah semestinya masyarakat Islam terus waspada dalam menghadapi serangkaian tipu daya bangsa barat.

Pertarungan Islam dengan bangsa barat tidak hanya sebatas masalah pemberitaan. Namun telah mewabah menjadi suatu benturan budaya yang terkadang bertentangan dengan masyarakat Islam. Nah! dari sinilah perlu sebuah perhatian khusus dari kalangan masyarakat Islam, agar dalam mencerna budaya dan informasi dari bangsa sekuler barat perlu di cerna dengan seksama dan berhati jernih dalam menyikapi persoalan yang datang dari bangsa barat.

Islam Vs Barat merupakan sebuah pertarungan yang sampai saat ini terus berlanjut dalam memberikan sebuah argumen tentang makna nilai sosial, budaya, negara dan masih banyak lagi dalam menerjemahkan di setiap persoalan yang datang dan pergi di Tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia.

Keberadaan Islam di anggap ancaman bagi bangsa barat, sebab sejarah regresi bangsa barat tak lepas dari kondisi masyarakat Islam pada waktu zaman Bani Umayyah, Abbasiyah dan zaman keemasan Islam lainnya telah mengalami kemajuan pesat. Sehingga bangsa barat sampai hari ini berusaha keras menutup kemajuan masyarakat Islam dengan cara halus maupun dengan segala cara dalam bertindak.

Serangan bangsa barat terhadap Islam di zaman masa kini begitu gencar dengan cara menghembuskan sebuah informasi dengan mendiskreditkan masyarakat Islam. Sehingga masyarakat Islam terus mengalami perpecahan sampai menimbulkan kekacauan dalam tubuh masyarakat Islam.

Berangkat dari tulisan di atas perlu ada sebuah kebijakan masyarakat Islam dalam memfilter segala budaya, berita, idiologi dan segala produk dari bangsa barat, agar masyarakat Islam tidak terjebak dalam dogma negatif bangsa barat.

Keberadaan Islam Vs Barat merupakan sebuah tantangan besar bagi masyarakat Islam, agar terus menerus belajar di segala aspek kehidupan. Sehingga kedepan masyarakat Islam mampu kembali menguasai tongkat estafet atas kemajuan para pemimpin Islam, seperti: Shalahuddin Al-Ayyubi dan tokoh besar Islam lainnya dalam memenangkan di setiap pertarungan melawan bangsa barat. Dan Allah maha pemberi kemenangan terhadap orang yang sabar dan berjuang di jalan-NYA.

Sunday, 21 February 2016

Perang Adalah Rahmat


By: Khoirul Taqwim

Ketika membaca tentang perang sadar atau tidak sadar pikiran kita secara langsung melayang jauh akan terjadinya dampak yang destruktif (merusak), sebab dengan adanya perang tak dapat di pungkiri akan terjadinya hilangnya nyawa, harta benda dan akan terjadi banyak janda-janda dan anak-anak yatim dan masih banyak lagi yang berdampak negatif dari peperangan tersebut, tetapi sebenarnya ada sisi positif dalam perang jika kita mau memahami secara universal.

Sebelum lebih jauh kita membahas tentang perang adalah rahmat, lebih bijaknya kalau kita terlebih dahulu memberikan pengertian perang yaitu sebuah aksi fisik dan non fisik antara dua kelompok atau lebih untuk melakukan dominasi di suatu tempat yang dipertentangkan.namun secara umum perang merupakan pertentangan antar kelompok dalam melakukan suatu gerakan dan yang menjadi penyebab perang adalah adanya perselisihan ideologi yang di pengaruhi sarat kepentingan, keinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan, perebutan sumber daya alam di suatu tempat, dan masih banyak lagi yang menyebabkan adanya peperangan.

Perang sudah menjadi ruh sejarah manusia dari generasi ke generasi dalam menjalani hidup, sehingga sejak dahulu kala sampai generasi saat ini kita tak lepas dari generasi yang bebas dari perang, jadi wajar apabila kita selalu melihat perang di belahan dunia, tentunya dari situ akan ada reaksi yang mendukung perang maupun yang menolak adanya peperangan, itulah bentuk keberagaman manusia dalam menafsiri perang, tetapi yang pasti perang sudah menjadi watak manusia dalam berkompetisi, untuk itu perang yang punya nilai rahmat di butuhkan pemikiran yang dalam, sebab tidak semua perang adalah rahmat bahkan perang juga membawa bencana kalau kita tidak memahami perang yang punya nilai kemanusiaan. lalu yang menjadi pertanyaan besar adalah perang yang seperti apa yang mempunyai nilai rahmat? pertanyaan inilah yang nantinya membawa kita dalam pembahasan yang lebih mengkerucut.

Perang yang punya nilai rahmat adalah ketika perang tersebut mengarah menuju tercapainya masyarakat yang damai, adil, makmur dan sejahtera, sehingga terjadinya perang adalah bentuk perwujudan pembebasan masyarakat dari suatu cengkeraman penjajahan, dari peristiwa tersebut kita punya kewajiban perang sebagai tanggung jawab memerdekakan manusia dalam melakukan rekonstruksi di segala aspek kehidupan masarakat, agar terjadi kehidupan yang lebih beradab dan jauh dari sifat kemunkaran. Adanya perang merupakan bentuk efesien dan efektif dalam melakukan sebuah gerakan perlawanan, dalam agama Islam tidak pernah mengajarkan peperangan selain untuk tujuan pembebasan; yaitu: pembebasan dari berbagai bentuk penindasan, diskriminasi dan tindakan melanggar HAM, dan lain sebagainya. Dalam sejarah Islam menegaskan bahwa tentara Islam masuk ke Mesir dengan tujuan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, bahkan di negara kita sendiripun perang juga pernah terjadi saat memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dalam mengusir penjajahan yang menindas masyarakat pribumi.

Jadi ketika perang dikatakan rahmat apabila sesuai dengan nilai kasih sayang dan peduli pada penderitaan orang lain, jika perang yang terjadi tidak punya nilai demikian berarti perang tersebut tidak dapat di katakan rahmat, tulisan singkat ini merupakan ulasan sederhana dalam memahami perang adalah rahmat, agar kita dapat mengambil hikmah dari suatu peperangan dengan arif dan dapat mencapai sifat terpuji dalam diri kita, semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk kebenaran dengan anugerah dan kemuliaanNYA.



Friday, 19 February 2016

Marxisme Dalam Pandangan Islam


By: Khoirul Taqwim

Marxisme merupakan wajah dari manifesto komunis yang di gagas karl Marx dalam bentuk pemikiran tentang ekonomi dan negara, tetapi tak jarang filsafat yang di bangun Karl Marx menyerang agama dengan tuduhan, bahwa agama adalah candu, tentu bangunan filsafat Marxisme membuat para agamawan tersentak dengan gagasan Karl Marx atas sejumlah bangunan argumen yang di bangun dalam filsafat Marxisme.

Marxisme dalam paradigma pemikiran mengedepankan masalah penyamarataan tentang ekonomi antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin, tetapi konsep yang di bangun Karl Marx cenderung mengarah kepada kediktatoran sosial, padahal manusia di ciptakan dalam bentuk sosial maupun individu dalam realita kehidupan.

Gagasan Karl Marx tentang penyamarataan merupakan sebuah pertarungan yang di paksakan, sebab manusia dalam aksiologi dan epistemologi mempunyai sebuah perbedaan. Sehingga bangunan filsafat Karl Marx terbentur dengan sebuah realita aksiologi dan epitemologi dalam menerjemahkan sebuah kehidupan. Bahkan bangunan filsafat marxisme cenderung sepihak tanpa menganalisa tentang sebuah keberagaman.

Manusia dalam realita kehidupan merupakan bentuk sebuah keberagaman. Sehingga manusia tak dapat di sama ratakan dalam makna aksiologi maupun epistemologi. Sebab Allah dalam menciptakan manusia dalam bentuk perbedaan, tentu perbedaan melalui sebuah ekonomi, sosial, budaya, politik, dan masih banyak lagi perbedaan yang lain. Namun Islam mengajarkan, bahwa antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin harus saling berkesinambungan antara satu dengan yang lain, bahwa masyarakat kaya berkewajiban membantu masyarakat miskin melalui istilah zakat, sedekah dan masih banyak lagi istilah dalam Islam tentang hubungan masyarakat kaya dengan masyarakat miskin.

Pandangan Islam tentang marxisme, bahwa filsafat Marxisme terlalu kaku dalam menerjemahkan tentang realita kehidupan, sebab Marxisme hanya mengambil sisi penyamarataan belaka, tanpa melihat dari sisi yang lain, padahal kehidupan mempunyai keberagaman nilai dalam fakta di lapangan.

Gagasan Marxisme hanya berkutat pada ontologi belaka. Sehingga ajaran marxisme cenderung satu pihak dalam menerjemahkan realita kehidupan, padahal manusia dalam realita kehidupan telah mengalami sebuah perbedaan yang amat besar. Inilah konsep marxisme telah terjebak dalam bentuk parsial dan tidak menyentuh secara universal kehidupan.

Kesalahan marxisme dalam menerjemahkan teologi hanya berkutat pada pemahaman sepihak, tanpa melihat secara dalam makna teologi antara yang tersirat maupun tersurat, agar mempunyai keseimbangan dalam penilaian tentang sebuah realita teologi.

Serangan marxisme yang paling dahsyat tentang agama dengan mengatakan, bahwa agama adalah candu, kalau melihat dari argumen marxisme tersebut, berarti marxisme hanya melihat dari sudut pandang negatif, tanpa melihat sudut pandang yang lain. Nah! dari sinilah dapat di katakan, bahwa marxisme dalam menerjemahkan sebuah realita keagamaan hanya berkubang satu pihak, lalu membuat sebuah kesimpulan, tanpa melihat dari sisi yang lain.

Islam dalam memandang marxisme, bahwa marxisme terjebak dalam filsafat yang berpangkal pada ontologi, tanpa melihat Premis-premis kecil yang berdasarkan kepada epistemologi dan aksiologi, agar dalam menganalisa filsafat kehidupan tidak sepotong-potong, lalu menyimpulkan dengan lugas tanpa melihat fakta di lapangan.

Sedangkan dalam Islam manusia di hadapan Allah adalah sama, tetapi yang membedakan adalah sebuah bentuk keimanan. Nah! dari sinilah Islam secara ontologi menyamakan kedudukan manusia, namun dalam dataran epistemologi dan aksiologi telah mengalami sebuah perbedaan. Karena Islam merupakan sebuah kumpulan antara hak individu dan hak sosial secara seimbang.

Keberadaan gagasan Marxisme terjebak pada nilai sosial, tetapi telah mengingkari dalam pengejawantahan tentang hak individu. Sedangkan Islam berusaha menyeimbangkan antara kepentingan individu dengan sosial, bukan menegasikan antara satu dengan yang lain. Dan Allah maha pemberi jalan petunjuk bagi siapa yang di kehendaki-NYA