Friday, 18 May 2012

Pendidikan Indonesia Dalam Kubangan Paradigma Bangsa Barat




Pendidikan Indonesia sejak SD sampai tingkat perguruan tinggi, tak di nyana dan tak di kira dalam keilmuan hampir seratus persen mengadopsi bagian dari paradigma bangsa barat, Bahkan ironis kekayaan pemikiran di kawasan nusantara di telan habis dalam pola pikir bangsa barat. Inilah bentuk keprihatinan terbesar dari kalangan masyarakat yang perduli atas keselamatan dari masyarakat bangsa nusantara dari dogma bangsa barat yang saat ini berkembang pesat dalam dunia pendidikan Indonesia.

Bangsa Indonesia merupakan negara dengan tingkat pendidikan yang masih cenderung mengekor dalam teori berbagai ilmu pengetahuan, bagaimana tidak? pendidikan Indonesia masih mengadopsi sejumlah besar teori tentang paradigma bangsa barat yang tidak sejalan dengan falsafah nusantara. Sehingga wajar banyak para cendekiawan Indonesia yang tegila-gila dengan gagasan bangsa barat, tetapi lupa dengan gagasan teori yang sejalan dengan budaya dalam kehidupan masyarakat secara luas.

Soekarno merupakan tokoh besar dengan gagasan pancasila tak lepas dari menggali kekayaan nusantara, tetapi para cendekiawan Indonesia saat ini cenderung mengadopi paradigma pemikiran bangsa barat, baik berupa teori positivisme, liberalisme, nihilisme, pluralisme, marxisme, kapitalisme, materialisme, dan masih banyak lagi istilah paradigma pemikiran bangsa barat yang tumbuh berkembang di nusantara Indonesia. Namun sayangnya para cendekiawan yang di harapkan mampu mengimbangi paradigma bangsa barat malah terejerat dengan konsep bangsa barat. Sungguh ini merupakan peristiwa yang sangat ironis atas nasib pendidikan di tanah nusantara Indonesia.

Impor pengetahuan bangsa barat merupakan penerapan yang syah dalam memperoleh ilmu pengetahuan, apabila dalam pengejawantahan tak lupa dengan menggali kekayaan masyarakat nusantara itu sendiri dalam mendisplinkan antara ilmu pengetahuan bangsa barat dengan konteks kepentingan masyarakat nusantara, tetapi kalau hanya sebatas mengadopsi dari paradigma pemikiran bangsa barat dan di bawa kewilayah nusantara, berarti tak ada bedanya hanya sebatas memperpanjang kaki tangan idiologi bangsa barat.

Ilmu pengetahuan dengan segudang teori bangsa barat memang begitu sistematis masuk kewilayah pendidikan Indonesia dengan rapi. Sehingga banyak kalangan pelajar yang lupa kacang atas kulitnya, entah ini sebuah tindakan di sengaja bangsa barat atau memang ketidak mampuan para cendekiawan nusantara membendung gagasan bangsa barat.

Paradigma gagasan bangsa barat begitu cerdas membius sebagian besar para pelajar Indonesia, tentu semua tak lepas dari para Duta-duta cendekiawan bangsa barat, baik datang dari para cendekiawan bangsa barat itu sendiri, pada saat masuk kedunia pendidikan Indonesia atau datang dari duta cendekiawan masyarakat pribumi itu sendiri.

Keberadaan pendidikan Indonesia saat ini dalam kubangan paradigma bangsa barat. Nah! untuk melepaskan diri dari kubangan paradigma bangsa barat, sudah saatnya para cendekiawan melakukan penggalian ilmu dari khazanah nusantara, bahwa para cendekiawan nusantara harus mampu membuktikan diri dalam membangun sebuah teori dengan tidak mengekor konsep bangsa barat yang tumbuh berkembang secara pesat di dunia pendidikan Indonesia saat ini.

Ekspansi ilmu pengetahuan bangsa barat begitu deras menerpa bangsa Indonesia, kalau tidak sekarang melakukan sebuah gagasan dalam membendung teori bangsa barat, lalu kapan ekspansi ilmu pengetahuan bangsa barat akan berakhir? Inilah tantangan para pelajar Indonesia dalam menjawab gagasan bangsa barat yang saat ini banyak di gandrungi para pelajar dengan menamakan diri para kaum liberal.

Membendung keilmuan bangsa barat yang berpaham tak sejalan dengan ruh masyarakat nusantara di perlukan sebuah penggalian ilmu pengetahuan dari dalam maupun dari luar, tentu dengan berlandaskan Islam sebagai pengejawantahan dalam kehidupan akhirat maupun dalam kehidupan dunia. Semoga Allah membimbing kami dengan ilmu yang berkah dan bermanfa'at, Amiin......

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
.........

Kapitalisme Dalam Perspektif Islam




Kapitalisme merupakan bentuk ekonomi dengan menekankan kebebasan individu dalam mengeruk sebuah keuntungan. Namun dalam perjalanan kapitalisme cenderung mengarah kebebasan tanpa melihat sisi dalam kehidupan masyarakat secara luas. Karena cenderung mengarah dalam bentuk pasar bebas. Sehingga dalam kehidupan masyarakat miskin telah di jadikan obyek pasar. Sebab sebuah ekonomi dalam bentuk kapitalisme telah di kuasai segelintir para kaum kapital dalam mengeksploitasi berbagai sumber ekonomi.

Keberadaan kapitalisme memang menjadi buah simalakama bagi masyarakat miskin. Sebab pasar telah di kuasai segelintir masyarakat dan tentu yang menguasai ekonomi pasar adalah para pemilik modal. Sedangkan masyarakat yang mengandalkan tenaga dalam bekerja, ternyata nasib mereka sangat jauh dari sebuah kesejahteraan. Sebab ekonomi mereka sudah menggantungkan diri terhadap para pemilik kapital. Karena pasar telah di kuasai para kapital dengan begitu perkasa dalam sebuah bangunan ekonomi.

Sebuah kapitalisme dalam kehidupan masyarakat telah terjadi sebuah pasar ekonomi yang sangat merugikan bagi masyarakat miskin. Sebab kompetisi dalam dunia ekonomi telah di kuasai oleh para pemilik kapital, padahal sudah seharusnya antara pemilik kapital dengan masyarakat pekerja harus saling berkesinambungan satu sama lain, agar terjadi sebuah fakta di lapangan secara saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.

Perjalanan kapitalisme dalam kehidupan masyarakat modern telah mempengaruhi sebuah realita kehidupan masyarakat, bahwa bentuk pasar bebas telah di kuasai para pemilik kapital. Sehingga menghasilkan sebuah nilai dengan istilah yang tak asing lagi di dengar, yaitu: yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin, tentu di karenakan kapitalisme telah merusak Sendi-sendi sistem ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Sebab ekonomi hanya di kuasai segelintir orang dan para pemilik kapitallah yang menguasainya.

Sedangkan dalam ajaran Islam telah mengajarkan sebuah hubungan yang sehat, tentu tidak sebatas dengan istilah kebebasan, tetapi lebih mengarah sebuah tatanan yang saling menguntungkan antara yang satu dengan yang lainnya, apalagi dalam konsep ekonomi Islam sangat menentang mencari sebuah harta dengan cara haram, baik melalui proses riba, mencuri, menipu atau dalam bentuk kecurangan lain. Sehingga Islam berusaha menata ekonomi berdasarkan pada Nilai-nilai kemaslahatan dan sehat dalam berekonomi.

Islam sangat menekankan sebuah ekonomi dengan istilah ekonomi yang saling berkesinambungan dan tidak saling merugikan. Sehingga ekonomi Islam bukan hanya sebatas ekonomi dengan sebuah bahasa tentang kebebasan individu maupun sosial dalam membangun sebuah ekonomi., tetapi Islam membangun sebuah ekonomi dalam meraih sebuah kesejahteraan dengan jalan keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat secara universal.

Islam menilai bangunan ekonomi kapitalisme merupakan sebuah bentuk tentang teori ekonomi yang mengarah kepada kebebasan individu. Namun menegasikan sebuah Nilai-nilai ekonomi masyarakat secara universal. Sehingga kapitalisme cenderung mengarah dalam konsep parsial dan tidak menyentuh ekonomi dalam landasan keadilan masyarakat, sebab kapitalisme telah membuat sebuah formulasi tentang kebebasan dalam berkompetisi dengan cara memperkaya diri, tanpa menghiraukan dari sisi kemanusiaan secara luas dalam kehidupan masyarakat.

Berangkat dari uraian di atas, berarti sudah semestinya dalam membangun sebuah bangunan ekonomi yang berdasarkan kepada kesejahteraan masyarakat secara luas, keadilan dan berbagai Nilai-nilai yang bersumber dalam pengejawantahan tentang budi luhur dalam kehidupan masyarakat secara universal. Sedangkan kapitalisme yang terjadi dalam realita kehidupan cenderung mengarah kepada diktator kapital. Sehingga menghasilkan sebuah fakta di lapangan tentang keserakahan para kapital dalam membangun tatanan ekonomi, sebab kapitalisme berpangkal kepada falsafah materialisme dalam menerjemahkan sebuah Nilai-nilai tentang kehidupan. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang di kehendaki-NYA, tanpa sebuah perhitungan.

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
.........

Marxisme Dalam Pandangan Islam



Marxisme merupakan wajah dari manifesto komunis yang di gagas karl Marx dalam bentuk pemikiran tentang ekonomi dan negara, tetapi tak jarang filsafat yang di bangun Karl Marx menyerang agama dengan tuduhan, bahwa agama adalah candu, tentu bangunan filsafat Marxisme membuat para agamawan tersentak dengan gagasan Karl Marx atas sejumlah bangunan argumen yang di bangun dalam filsafat Marxisme.

Marxisme dalam paradigma pemikiran mengedepankan masalah penyamarataan tentang ekonomi antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin, tetapi konsep yang di bangun Karl Marx cenderung mengarah kepada kediktatoran sosial, padahal manusia di ciptakan dalam bentuk sosial maupun individu dalam realita kehidupan.

Gagasan Karl Marx tentang penyamarataan merupakan sebuah pertarungan yang di paksakan, sebab manusia dalam aksiologi dan epistemologi mempunyai sebuah perbedaan. Sehingga bangunan filsafat Karl Marx terbentur dengan sebuah realita aksiologi dan epitemologi dalam menerjemahkan sebuah kehidupan. Bahkan bangunan filsafat marxisme cenderung sepihak tanpa menganalisa tentang sebuah keberagaman.

Manusia dalam realita kehidupan merupakan bentuk sebuah keberagaman. Sehingga manusia tak dapat di sama ratakan dalam makna aksiologi maupun epistemologi. Sebab Allah dalam menciptakan manusia dalam bentuk perbedaan, tentu perbedaan melalui sebuah ekonomi, sosial, budaya, politik, dan masih banyak lagi perbedaan yang lain. Namun Islam mengajarkan, bahwa antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin harus saling berkesinambungan antara satu dengan yang lain, bahwa masyarakat kaya berkewajiban membantu masyarakat miskin melalui istilah zakat, sedekah dan masih banyak lagi istilah dalam Islam tentang hubungan masyarakat kaya dengan masyarakat miskin.

Pandangan Islam tentang marxisme, bahwa filsafat Marxisme terlalu kaku dalam menerjemahkan tentang realita kehidupan, sebab Marxisme hanya mengambil sisi penyamarataan belaka, tanpa melihat dari sisi yang lain, padahal kehidupan mempunyai keberagaman nilai dalam fakta di lapangan.

Gagasan Marxisme hanya berkutat pada ontologi belaka. Sehingga ajaran marxisme cenderung satu pihak dalam menerjemahkan realita kehidupan, padahal manusia dalam realita kehidupan telah mengalami sebuah perbedaan yang amat besar. Inilah konsep marxisme telah terjebak dalam bentuk parsial dan tidak menyentuh secara universal kehidupan.

Kesalahan marxisme dalam menerjemahkan teologi hanya berkutat pada pemahaman sepihak, tanpa melihat secara dalam makna teologi antara yang tersirat maupun tersurat, agar mempunyai keseimbangan dalam penilaian tentang sebuah realita teologi.

Serangan marxisme yang paling dahsyat tentang agama dengan mengatakan, bahwa agama adalah candu, kalau melihat dari argumen marxisme tersebut, berarti marxisme hanya melihat dari sudut pandang negatif, tanpa melihat sudut pandang yang lain. Nah! dari sinilah dapat di katakan, bahwa marxisme dalam menerjemahkan sebuah realita keagamaan hanya berkubang satu pihak, lalu membuat sebuah kesimpulan, tanpa melihat dari sisi yang lain.

Islam dalam memandang marxisme, bahwa marxisme terjebak dalam filsafat yang berpangkal pada ontologi, tanpa melihat Premis-premis kecil yang berdasarkan kepada epistemologi dan aksiologi, agar dalam menganalisa filsafat kehidupan tidak sepotong-potong, lalu menyimpulkan dengan lugas tanpa melihat fakta di lapangan.

Sedangkan dalam Islam manusia di hadapan Allah adalah sama, tetapi yang membedakan adalah sebuah bentuk keimanan. Nah! dari sinilah Islam secara ontologi menyamakan kedudukan manusia, namun dalam dataran epistemologi dan aksiologi telah mengalami sebuah perbedaan. Karena Islam merupakan sebuah kumpulan antara hak individu dan hak sosial secara seimbang.

Keberadaan gagasan Marxisme terjebak pada nilai sosial, tetapi telah mengingkari dalam pengejawantahan tentang hak individu. Sedangkan Islam berusaha menyeimbangkan antara kepentingan individu dengan sosial, bukan menegasikan antara satu dengan yang lain. Dan Allah maha pemberi jalan petunjuk bagi siapa yang di kehendaki-NYA

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
..........

Thursday, 17 May 2012

Wabah Korupsi Indonesia


Negeri Indonesia di hadapkan dengan berbagai persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga wajar persoalan di Indonesia begitu cepat silih berganti antara yang datang maupun pergi. Bahkan terkadang membuat hati masyarakat jengah dengan berbagai pemberitaan mengenai nasib bangsa yang kian mulai tenggelam dalam kerusakan.

Penyebab utama kerusakan bangsa Indonesia di sebabkan faktor dari para oknum pengelola negara yang melakukan tindak korupsi. Sehingga negara sangat di rugikan dengan tindak korupsi yang di lakukan para oknum pengelola negara, tentu membuat bangsa Indonesia semakin tenggelam dalam penyakit kanker yang di sebabkan aksi para koruptor di negeri Indonesia.

Mengatasi para koruptor di negeri Indonesia terasa sulit sekali. Mengingat para pelaku tindak korupsi dari para pemegang kekuasaan. Sehingga hukum negara tidak mampu menyentuh atas keberadaan kekuasaan para penilep uang negara tersebut. Nah! dengan demikian bangsa Indonesia telah mengidap penyakit kanker yang mustahil di carikan obat penyembuhnya, kecuali dengan ditegakkan hukum yang tegas, berani dan berwibawa, tetapi semua itu dibutuhkan sebuah proses yang panjang dalam melawan para penilep uang negara.

Koruptor merupakan sebuah penyakit watak dan kepribadian yang paling merusak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga wajar di saat sebuah negara terkena sebuah penyakit korupsi. Maka dengan cepat penyakit korupsi menjadi kanker kehidupan dalam sebuah negara. Bahkan setiap saat mengancam keutuhan sebuah negara, tentu semua harus di selesaikan dengan tepat sasaran dalam mengatasi sebuah penyakit korupsi di negeri Indonesia.

Bangsa Indonesia merupakan sebuah negara besar dengan berbagai pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tentu semua itu harus di kelola dengan baik, agar kekayaan nusantara Indonesia dapat di nikmati oleh segenap tumpah darah masyarakat anak negeri. Namun dalam realita kebangsaan, ternyata harta kekayaan bangsa Indonesia hanya di nikmati para penyimpang uang negara, kalau itu secara terus-menerus di biarkan, berarti telah mengingkari sebuah nilai tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tertuang dalam falsafah pancasila butir ke-5.

Keberadaan koruptor di Indonesia memang masih begitu parah dalam kehidupan berbangsa. Sehingga menghasilkan sebuah bangsa yang jauh dari nilai keadilan dan pemerataan. Berangkat dari situlah di harapkan segenap masyarakat bangsa Indonesia, untuk terus memantau keberadaan kekayaan nusantara, agar tidak di tilep oleh sebagian oknum yang mengatasnamakan masyarakat Indonesia.

Bangsa Indonesia sudah cukup menderita atas tertimpa sebuah wabah korupsi yang begitu dahsyat dalam Sendi-sendi kehidupan. Sehingga operasi total di segala aspek kehidupan harus di lakukan dengan cara revolusioner di segala ranah, agar segera mungkin korupsi dapat berhenti dalam kehidupan bangsa Indonesia, agar kehidupan masyarakat Indonesia mampu bangkit kembali menjadi negara yang kuat dan kokoh dalam menatap masa depan.

Penyakit korupsi Indonesia sudah mewabah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu sudah saatnya di berantas dengan cepat, agar penyakit korupsi tidak menular di segala aspek kehidupan secara universal. Sebab kalau penyakit korupsi di biarkan, tentu tidak menutup kemungkinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tinggal menunggu hitungan waktu menuju sebuah lubang kehancuran. Karena tidak ada sebuah bangsa abadi di alam semesta, semua punya umur dan jangka waktu dalam membangun sebuah peradaban bangsa.

Penyimpangan melalui korupsi merupakan sebuah penyakit yang dapat menimbulkan kerusakan sebuah bangsa. Bahkan lebih jauh lagi korupsi mampu membuat tutup usia sebuah bangsa di sebabkan penyimpangan korupsi yang berkelanjutan dan tidak ada solusi sedikitpun dalam menyelesaikannya. Dan Allah maha penetap hukum dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak ketetapan-NYA.

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
..........

Mensinergikan Teks Dan Konteks Dalam Islam


Benturan teks dan konteks terkadang terjadi di sebabkan salah dalam menerjemahkan atau salah dalam pemahaman sebuah teks dengan konteks secara tepat. Sehingga mengakibatkan sebuah ketidaksamaan dalam pemahaman secara benar, berangkat dari sinilah di butuhkan sebuah ta'wil secara tepat dalam memahami antara teks dan konteks.

Islam merupakan agama wahyu sebagai pedoman manusia, tetapi dalam perjalanan Islam terdapat berbagai halangan dari kaum yang tidak menyukai atas kehadiran Islam. Namun apapun itu Islam sampai hari ini tetap berdiri tegak dan kokoh di bumi Allah. Inilah anugerah terbesar bagi umat Islam saat melihat bangunan Islam begitu besar dalam realita kehidupan.

Perjalanan umat Islam di lihat dari sebuah sejarah besar, ternyata telah mengalami berbagai perbedaan pemahaman sejak di masa sahabat nabi. Sehingga kita mengenal dengan istlah Khawarij, Murji'ah, dan Syi'ah. Ketiga kelompok inilah sebagai cikal bakal sebuah perbedaan umat Islam yang lebih luas lagi dalam pemahaman tentang ajaran Islam.

Memang perbedaan merupakan sebuah rahmat agung, apabila umat Islam mampu menghargai sebuah perbedaan dengan dewasa dan tanggung jawab di setiap menghadapi sebuah perbedaan. Namun kalau sebuah perbedaan di anggap destruktif, tentu akan menghasilkan sebuah kekacauan di segala aspek kehidupan, sekaligus mengakibatkan kehancuran dalam tubuh umat Islam itu sendiri.

Perbedaan umat Islam di sebabkan sebuah multi ta'wil antara teks dan konteks tidak sejalan dengan kelompok lain. Dari sinilah umat Islam mengalami sebuah perbedaan dalam tatanan hukum maupun dalam bentuk tatanan yang lain.

Islam mengajarkan tentang sebuah kebenaran harus di tegakkan dalam kondisi apapun. Namun dalam ranah realita kehidupan, ternyata dalam tatanan masyarakat telah mengalami destruktif akhlak di sebabkan kecenderungan masyarakat mengejar profan dan meninggalkan kehidupan sakral.

Melihat perbedaan pandangan umat Islam dalam memahami tentang ajaran Islam, ternyata di sebabkan antara teks dan konteks dalam pemahaman tidak sejalan. Sehingga dapat di tebak kerancuan paradigma berpikir mengalami sebuah perbedaan yang mencolok dan menghasilkan sebuah kerancuan tatanan dalam realita kehidupan.

Multi ta'wil dalam kehidupan umat Islam merupakan sebuah rahmat yang agung, kalau antara teks dan konteks dapat di sinergikan dengan cerdas dalam mengambil sebuah kesimpulan, untuk di jadikan sumber dari segala sumber. Namun kalau multi tafsir terdapat sebuah semangat sekte buta dalam melakukan sebuah kajian tentang Nilai-nilai ke-Islaman, tanpa melihat sebuah kebenaran haqiqi. Maka sudah dapat di tebak proses dalam penafsiran tentang teks akan mengalami sebuah istilah liberal dalam menghasilkan sebuah tatanan hukum.

Kalau istilah ta'wil liberal sudah menyusup dalam dunia Islam. Maka akan terjadi sebuah dilema besar bagi tatanan lehidupan msayarakat dan tidak dapat di pungkiri kerusakan dalam ta'wil teks maupun konteks akan terjadi sebuah kerancuan dalam tatanan hukum maupun dalam tatanan lain.

Berangkat dari tulisan di atas di butuhkan sebuah terobosan yang cerdas dalam mensinergikan antara teks dan konteks dalam menghasilkan sebuah bangunan Islam, agar umat Islam mendapatkan sebuah ta'wil antara teks dan konteks dan saling melengkapi sebuah kehidupan profan dengan kehidupan sakral.

Mensinergikan teks dan konteks dalam tubuh Islam merupakan sebuah jalan pencapaian keseimbangan dalam menatap masa depan. Sehingga Islam dapat di rasakan sebuah keharmonisan kehidupan dalam tatanan keindahan dan menghasilkan sebuah bentuk bangunan secara kaffah.

Semoga Allah memberi jalan petunjuk kepada kebenaran dengan anugerah dan kemuliaan-NYA, Amiin............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
............